Kirka – Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang mencapai puncaknya pada Jumat, 4 September 2026 malam melumpuhkan sendi kehidupan di dua provinsi terdekat.
Hujan abu vulkanik pekat menyebar hingga lima provinsi, menempatkan Lampung dan Banten sebagai wilayah dengan disrupsi sosial paling masif.
Di pesisir hingga pusat kota Lampung, langit seketika meremang.
Sedikitnya delapan kabupaten dan kota tertutup material hitam pekat yang memaksa otoritas setempat memberlakukan status tanggap darurat.
Bandara Internasional Radin Inten II bahkan harus membatalkan 25 penerbangan demi keselamatan aviasi, bersamaan dengan instruksi pengalihan jam sekolah ke sistem daring.
Langkah pembatasan aktivitas luar ruang rupanya belum cukup membendung ancaman gangguan kesehatan masyarakat.
Laporan fasilitas medis mencatat lonjakan keluhan iritasi mata, sesak napas, serta infeksi tenggorokan.
Situasi makin pelik ketika warga kesulitan mencari masker akibat kekosongan stok di banyak apotek.
“Debunya berwarna hitam dan membuat mata perih luar biasa,” ucap Turman (65), warga Lampung Selatan saat membersihkan teras rumahnya dari tumpukan material vulkanik.
Kengerian serupa merayap cepat ke seberang Selat Sunda.
Penduduk pesisir Banten, khususnya Pantai Carita di Kabupaten Pandeglang, terus diguncang suara gemuruh dan getaran kuat yang merobek keheningan dini hari.
Rangkaian letusan sontak membangkitkan ingatan kelam tragedi tsunami 2018 silam.
Ratusan keluarga langsung berkemas, mengevakuasi dokumen penting, serta berjaga di titik aman.
Para orang tua juga kompak menahan anak-anak mereka agar tetap tinggal di dalam rumah.
“Suaranya persis seperti dentuman meledak yang berulang,” ungkap Rizqi Baidullah, warga Pandeglang.
Rentetan abu lantas mengguyur Kabupaten Serang sejak Sabtu, 5 persen 2026 sore.
Material vulkanik menutupi jalanan maupun lantai rumah hanya dalam hitungan menit, memaksa warga bekerja keras melakukan pembersihan manual.
Melihat meluasnya efek kelumpuhan infrastruktur hingga kepanikan massal, Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama membedah kerentanan sosial yang sedang terjadi.
Ia menegaskan, letusan gunung bukan sekadar persoalan kerusakan fisik bangunan, melainkan runtuhnya ketahanan psikologis sekaligus urat nadi ekonomi warga.
“Disrupsi sosial sangat ditentukan oleh seberapa dekat jarak populasi ke sumber letusan, tingkat kesiapsiagaan, dan seberapa besar kerentanan wilayah mereka,” terang Mahendra, Senin, 7 September 2026.
Bagi Mahendra, Lampung dan Banten menanggung beban terberat sebagai garis depan kawasan terdampak.
Ia menyarankan pemerintah pusat segera turun tangan langsung, baik untuk menyuplai kebutuhan pernapasan medis maupun meredam trauma kolektif yang mengancam struktur sosial masyarakat pesisir.
Hingga berita diturunkan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status GAK pada level Siaga (Level III) sejak 2 Juli 2026 lalu.
Area radius berbahaya mutlak ditutup rapat dari seluruh aktivitas publik demi mencegah jatuhnya korban.






