Kirka – Selama ini, durian asal Provinsi Lampung kerap hanya dipandang sebagai komoditas musiman yang dijajakan di sepanjang jalan lintas Sumatera.
Padahal, jika dikelola melalui hilirisasi terintegrasi, setiap jengkal anatomi “Si Raja Buah” ini dapat menjadi aset strategis penopang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa durian menyimpan potensi besar jika dilihat dari perspektif Resource Based View (RBV).
Menurutnya, mulai dari daging, biji, hingga kulit durian bisa disulap menjadi ‘emas hijau’ yang bernilai ekonomi tinggi.
“Langkah dasar hilirisasi sebenarnya sudah ada, seperti mengolah daging durian menjadi frozen pulp (daging beku) atau pasta untuk industri *food and beverage.
“Namun, dengan luasnya kebun rakyat dan Hutan Kemasyarakatan (HKm), potensi Lampung jauh melampaui sekadar olahan dasar tersebut,” ujar Mahendra, Sabtu, 28 Maret 2026.
Merujuk pada teori Value Added dari ekonom Nicholas Kaldor, Mahendra mengingatkan bahwa transformasi ekonomi sejati baru terjadi ketika bahan mentah diolah menjadi barang jadi di dalam daerah itu sendiri, bukan sekadar dikirim keluar daerah dalam bentuk buah gelondongan.
Biji dan Kulit
Lebih lanjut, Mahendra menyoroti limbah durian yang selama ini hanya menjadi beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Berdasarkan kajian teknokratis, biji dan kulit durian justru menyimpan potensi industrialisasi yang besar.
Biji durian diketahui mengandung pati tinggi yang dapat diolah menjadi tepung industri sebagai substitusi gandum.
Sementara itu, kulit durian kaya akan pektin dan selulosa yang bisa dimanfaatkan untuk produk turunan bernilai jual.
“Kulit durian Lampung dapat dihilirisasi menjadi briket energi hijau atau bahan pengemas ramah lingkungan (biodegradable). Itu sangat sejalan dengan tren global Green Economy,” jelasnya.
Bagi Mahendra, industrialisasi limbah adalah kunci dari penerapan ekonomi sirkular yang sukses.
“Adagium ekonomi modern menyebutkan bahwa kita harus mampu mengubah biaya lingkungan menjadi profitabilitas,” tambahnya.
Kebun Modern dan Hutan
Untuk merealisasikan potensi tersebut, Mahendra menyebutkan bahwa proses hilirisasi harus mampu menjembatani tiga entitas utama.
Ketiganya adalah perkebunan modern yang memiliki standar ekspor, kebun rakyat yang membutuhkan kepastian harga jual, dan HKm yang bertugas menjaga keseimbangan ekologi.
Integrasi tersebut diyakini akan menciptakan sebuah ekosistem industri yang inklusif.
Ia mendorong agar pabrik-pabrik pengolahan didirikan berdekatan dengan sentra produksi di berbagai kabupaten di Lampung.
Langkah ini dinilai efektif untuk memangkas biaya logistik sekaligus memastikan nilai tambah ekonomi tetap menetap dan berputar di desa-desa.
“Sudah saatnya Lampung berhenti sekadar menjadi penonton saat durian dari daerah atau negara tetangga mendominasi pasar global.
“Hilirisasi total adalah harga mati untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi petani kita,” pungkas Mahendra.






