Sosok  

Petani Lampung Diimbau Beralih ke Pertanian Organik saat El Nino

Petani Lampung Diimbau Beralih ke Pertanian Organik saat El Nino
Seminar Hari Bumi dengan tema "Peran Generasi Muda Dalam Menekan Laju Pertumbuhan Iklim" di Auditorium Prof. Abdulkadir Muhammad Gedung A Fakultas Hukum Unila, Selasa (16/5/2023). Foto: Josua Napitupulu

KIRKA – Petani Lampung diimbau beralih ke pertanian organik saat El Nino terjadi. Puncak El Nino diperkirakan pada Agustus 2023.

El Nino merupakan salah satu pemicu kekeringan saat musim kemarau di Indonesia, dan berpotensi menurunkan produktivitas lahan pertanian.

Menurut Dosen Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Lampung (Unila), Dr. Eng. Dewi Agustina, pertanian organik lebih tahan menghadapi El Nino.

“Kalau menurut saya, lebih aman beralih ke pertanian natural, ke sifat-sifat alami pertanian yang ramah lingkungan,” kata dia usai acara Seminar Hari Bumi di Auditorium Prof. Abdulkadir Muhammad Gedung A Fakultas Hukum Unila, Selasa (16/5/2023).

Baca Juga: Loss and Damage Perubahan Iklim di Lampung Capai Rp3,6 Triliun

Dewi Agustina mengatakan pertanian organik yang menggunakan pupuk kompos ditambah kotoran ternak akan meningkatkan unsur hara dalam tanah.

“Kalau unsur haranya besar, biasanya tanah itu mampu menyimpan air di musim kering,” ujar dia.

Baca Juga: LDC Pasok Biodiesel untuk Pertamina, ExxonMobil, & Shell

Penggunaan pupuk kimia, jelas Dewi, justru meningkatkan kemasaman tanah yang mengakibatkan unsur hara semakin berkurang.

“Mungkin, pada awal-awal penambahan pupuk kimia, jumlah panennya banyak,” kata dia.

“Tapi, ketika semakin lama digunakan, unsur hara yang ada dalam tanah hilang. Akhirnya, membuat produktivitas malah menurun,” lanjut Dewi.

Sehingga untuk menghadapi fenomena El Nino, petani Lampung diimbau beralih ke pertanian organik.

“Jadi, kesadaran akan pertanian organik itu harus sudah mulai sesering mungkin dikampanyekan kembali,” ujar dia.

Pertanian organik tanpa menggunakan bahan-bahan kimia saat fenomena El Nino diyakini mampu meningkatkan produktivitas petani Lampung.

Dewi Agustina menambahkan selain menggunakan pupuk organik, juga perlu dilakukan perbaikan irigasi dan pemilihan bibit tanaman menghadapi musim kemarau.

“Jangan tanam padi yang tidak tahan kekeringan,” tegas dia.

Petani Lampung diminta menanam padi varietas unggul yang teruji toleransinya terhadap kekeringan.

Modifikasi cuaca untuk pertanian saat musim kemarau yang diiringi El Nino, tambah Dewi, tidak akan efektif karena ruang lingkupnya terbatas dan terbilang mahal.

“Kalau di Lampung, menurut saya, tidak perlu sampai seperti itu. Hujan buatan hanya untuk di daerah tertentu saja, lingkupnya tidak luas dan biayanya mahal, kurang efektif untuk lahan pertanian,” kata dia.

Di daerah lain, lanjut Dewi, hujan buatan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan, dan bukan ke pertanian.

Baca Juga: Stockpile Batu Bara di Lampung Marak Tak Berizin

Pertanian organik, perbaikan irigasi, pemilihan bibit tanaman yang tahan iklim, menjadi strategi jangka pendek yang bisa diterapkan petani Lampung saat menghadapi El Nino.

“Jadi, harus mulai dipikirkan strategi-strategi yang seperti itu,” pungkas Dewi.