KIRKA – Akademisi Universitas Lampung, Prof Agus Haryanto, mendorong penggunaan limbah agroindustri sumber energi terbarukan.
“Aktivitas pertanian akan menghasilkan limbah dan bisa dimanfaatkan untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan,” kata Prof Agus di Bandar Lampung, Kamis, 1 Desember 2022.
Prof Agus Haryanto yang baru dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Lampung pada Rabu (30/11) ini menyampaikan limbah agroindustri paling banyak dihasilkan oleh industri kelapa sawit, padi, singkong, dan tebu.
“Peternakan juga menghasilkan limbah yang dapat dikonversi menjadi energi terbarukan,” ujar dia.
Baca Juga: Plt Rektor Unila Kukuhkan 19 Guru Besar
Dosen Jurusan Teknik Pertanian ini menjelaskan berdasarkan karakteristik, tanaman pertanian sumber energi terbarukan dapat dikelompokkan menjadi empat.
Pertama, tanaman yang menghasilkan biomassa padat (kayu, jerami, rumput);
Kedua, tanaman penghasil minyak (kelapa sawit, kedelai, kelapa);
Ketiga, tanaman penghasil pati atau gula (tebu, singkong, sorgum manis);
Keempat, tanaman pertanian penghasil biomassa basah (air limbah).
“Potensi energi yang penting dari pertanian kita berasal dari aktivitas budidaya dan pengolahan padi, jagung, singkong, kelapa sawit, dan tebu,” kata Prof Agus.
Sumber energi terbarukan dari limbah agroindustri mulai banyak dipakai dan diterapkan pada industri-industri pertanian.
Limbah agroindustri sumber energi terbarukan juga sudah digunakan pada beberapa industri di Provinsi Lampung.
“Misalnya PT Great Giant Pineapple pakai biogas. Itu sudah lebih dari 10 tahun dia instalasi biogas masih berjalan dengan baik,” ujar Prof Agus Haryanto.
Kemudian, lanjut dia, ada juga pabrik tapioka yang memanfaatkan air limbahnya untuk menghasilkan listrik dan dijual ke PLN.
Prof Agus mengaku bahwa sampai saat ini penggunaan limbah agroindustri sebagai sumber energi terbarukan masih pada skala industri.
“Karena kalau hitung-hitungan secara ekonomi, yang punya prospek menguntungkan itu yang skala industri,” kata dia.
Dia tidak setuju dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa teknologi ramah lingkungan sebagai teknologi yang padat modal.
“Beberapa perusahaan yang beroperasi 10 tahun menggunakan sumber energi dari limbah ini, biasanya dalam tiga tahun sudah kembali modal,” ujar Prof Agus.
“Jadi, kalau sudah lebih dari tiga tahun beroperasi, kan tinggal mengambil (keuntungan) ini saja,” lanjut dia.
Dengan tingkat pengembalian modal yang cepat, dia optimis pihak perbankan akan memberikan dukungan pinjaman modal.
“Ke depan, adanya peraturan baru terkait insentif untuk perusahaan yang menurunkan emisi karbon akan lebih menarik lagi,” kata dia.
Insentif dari pemerintah bagi pelaku industri yang berhasil memangkas emisi karbon akan menarik minat banyak perusahaan untuk menggunakan sumber energi listrik dari energi terbarukan.






