Opini  

Zubairi Djoerban Paparkan Misteri Hepatitis Akut Misterius yang Menyerang Anak-anak

Zubairi Djoerban Paparkan Misteri Hepatitis Akut Misterius yang Menyerang Anak-anak
Salah satu siswa SDN 1 Perumnas Way Halim, Bandar Lampung, mencuci tangan saat mengawali sekolah tatap muka pada 13 September 2021 lalu. Foto: Josua Napitupulu

KIRKA – Ketua Satgas Penanganan Covid-19 IDI Prof Zubairi Djoerban memaparkan misteri hepatitis akut misterius yang menyerang anak-anak.

Baca Juga : Kandungan Vaksin Covid-19 yang Wajib Diketahui Masyarakat 

Melalui akun media sosialnya Twitter @ProfesorZubairi, secara singkat dia menyampaikan bahwa penyebab hepatitis akut misterius tidak disebabkan oleh virus hepatitis yang sudah dikenal saat ini.

“Kenapa disebut hepatitis misterius? Penyebabnya bukan virus hepatitis A, B, C, D, dan E yang dikenal,” kata dia seperi dikutip dari media sosialnya pada Rabu, 4 Mei 2022.

Penemu kasus pertama sekaligus pionir penanganan HIV dan AIDS di Indonesia ini menduga hepatitis akut misterius disebabkan Adenovirus 41.

“Diduga Adenovirus 41 yang sebelumnya tak pernah merusak liver, kecuali imunitas buruk,” ujar dia.

Zubairi Djoerban menjelaskan hepatitis akut misterius menyerang anak-anak dan mengancam nyawa.

Dalam beberapa kasus penanganan, korban harus menjalani cangkok hati.

“Menyerang anak-anak, notabene imunitasnya bagus,” kata dia.

Kementerian Kesehatan RI melalui Surat Edaran Nomor : HK.02.02/C/2515/2022 tentang Kewaspadaan Terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya menjelaskan kronologi penyakit tersebut.

SE tertanggal 27 April 2022 menyebutkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute hepatitis of unknown aetiology ) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah.

WHO secara resmi telah mempublikasikan Hepatitis akut misterius sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 15 April 2022.

Jumlah laporan terus bertambah. Per 21 April 2022, tercatat 169 kasus yang dilaporkan di 12 negara yaitu Inggris (114), Spanyol (13), Israel (12), Amerika Serikat (9), Denmark (6), Irlandia (<5), Belanda (4), Italia (4), Norwegia (2), Prancis (2), Romania (1) dan Belgia (1).

Kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun.

Tujuh belas anak di antaranya (10%) memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal.

Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah).

Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam. Penyebab dari penyakit tersebut masih belum diketahui.

Pemeriksaan laboratorium telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut.

Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus yang setelah dilakukan tes molekuler, teridentifikasi
sebagai F type 41.

SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus, sedangkan 19 kasus terdeteksi adanya ko-infeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.

Sejak 1 Mei 2022 Kementerian Kesehatan telah meningkatkan kewaspadaan.

Baca Juga : Pemerintah Kejar Target Herd Immunity Lewat Mudik Lebaran

Kewaspadaan tersebut meningkat setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dengan dugaan Hepatitis Akut misterius meninggal dunia, dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.