Menu
Precision, Actual & Factual

Riwayat Awal Pelarian Satono, Buronan Kejati Lampung yang Akhirnya Meninggal Dunia

  • Bagikan
Kirka.co
Akun Instagram @noverisman.subing.

KIRKA – Buronan yang paling dicari Kejaksaan Tinggi Lampung akhirnya meninggal dunia.

Dia adalah Satono. Pria yang dulunya menjabat sebagai Bupati Lampung Timur itu akhirnya tutup usia pada 12 Juli 2021 kemarin.

Berdasar laporan Tempo.co yang dipublikasikan pada Rabu, 20 Juni 2012, pelarian awal Satono diulas.

Terdapat dugaan keterlibatan pegawai kejaksaan yang diduga membantu Satono kabur.

Dalam penelusuran lain yang ditemukan KIRKA.CO, hal senada terkait dugaan main mata pegawai kejaksaan tadi, turut terpublikasi.

Setidaknya ada pegawai kejaksaan yang diperiksa oleh Kejaksaan Agung terkait pelarian Satono.

Keempat jaksa itu adalah Kasi Pidsus Kejari Bandar Lampung Teguh Heriyanto, penuntut umum Eka Hafstarini dan Khohar, serta Asisten Intelijen Kejati Lampung Sarjono Turin.

Satono adalah terpidana korupsi APBD Lampung Timur yang diputus bersalah oleh MA beberapa waktu lalu. Sebelum diputus bersalah, Satono dituntut 12 tahun penjara karena dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur pasal 2 ayat (1) UU Tipikor.

Akan tetapi, majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang yang diketuai Hakim Andreasmembebaskan Satono dari dakwaan korupsi APBD Lampung Timur sebesar Rp107 miliar di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Tripanca Setiadana. Modusnya, dana kas daerah sebesar itu dipindahkan ke BPR Tripanca Setiadana milik Sugiharto Wiharjo.

Dana itu raib lantaran BPR dinyatakan bangkrut dan ditutup oleh Bank Indonesia karena menyalahi aturan pengelolaan keuangan daerah. Kebijakan ini mengakibatkan dana pembangunan tak bisa dicairkan. Namun, putusan bebas ini dibatalkan oleh MA. Majelis kasasi memutus Satono bersalah dan menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara.

Selain pidana penjara, MA juga menjatuhkan pidana denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan. Satono juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 10,586 miliar. Apabila Satono tidak membayar uang pengganti tersebut paling lama satu bulan, harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti.

Lalu, jika harta benda tidak mencukupi untuk membayar uang pengganti, maka Satono akan dipidana dengan pidana penjara selama 3 tahun. Putusan ini dijatuhkan secara bulat pada tanggal 19 Maret 2012 oleh majelis kasasi yang diketuai Djoko Sarwoko beranggotakan Prof Komariah E Sapardjaja, Krisna Harahap, Leopold Hutagalung, dan MS Lumme.

Majelis berkesimpulan Satono terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut. Satono dianggap terbukti menjaminkan uang kas daerah kepada bank yang tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Perbuatan Satono, menurut MA, mengakibatkan pembangunan tidak berjalan lancar karena uang pembangunan itu mengendap di bank yang sudah dibekukan. Satono juga menerima bunga bank sebesar Rp10,586 miliar. Atas dasar putusan MA, Kejari Bandar Lampung telah melayangkan surat panggilan eksekusi.

Kejari Bandar Lampung telah memasukan Satono ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan No.01/DPO/N.8.10/04/2012 tanggal 9 April 2012. Kejaksaan juga telah mencekal Satono mulai tanggal 7 April 2012. Perpanjangan cekal itu diajukan berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung tanggal 5 April 2012.

  • Bagikan