Sosok  

Puisi Karya Mahendra Utama, Untuk Faisol Riza: Lanskap Perjuangan

Puisi Karya Mahendra Utama
Faisol Riza (Wakil Menteri Perindustrian RI) dan Mahendra Utama. (Sumber Foto: Dok. Pribadi).

KIRKA.CO – Karya puisi ini ditulis oleh Mahendra Utama. Judulnya: Untuk Faisol Riza: Lanskap Perjuangan. Diksi dan metafor puisi ini sangat memikat.

Sebuah puisi karya Mahendra Utama ini, susunan bait-baitnya sangat mengandung makna yang mendalam.

Tentunya hal itu bisa terjadi karena kepiawaian penulis dalam merangkai diksi dan metafor pada karya cipta puisinya.

Karya puisi dengan pilihan diksi dan metafor yang cemerlang, kerap memikat hati para pembacanya.

“Puisi ini mencoba menyelami perjalanan Faisol Riza sebagai santri, aktivis, dan politisi, dengan metafora alam, perjuangan, dan cahaya,” demikian kata Mahendra Utama, melalui keterangan tertulisnya, pada Selasa (27/5/2025), yang diterima redaksi kirka.co.

Berikut ini puisi berjudul: Untuk Faisol Riza: Lanskap Perjuangan, Karya Mahendra Utama.

Untuk Faisol Riza: Lanskap Perjuangan
Karya: Mahendra Utama

Di antara kitab-kitab yang bertaut waktu,
kau tumbuh dari akar Nahdlatul Ulama:
Kraksaan dan Paiton mencatat langkahmu,
sebelum filsafat mengasah kata,
sebelum administrasi merajut data.

1998, angin reformasi mengganas—
suaramu menggema di lorong gelap rezim.
SMID adalah panggung, darah muda dikobarkan,
sampai malam itu…
badanmu diculik, tapi jiwa tetap membara.
Kau dikembalikan, bukan sebagai korban,
melainkan puing yang bangkit jadi mercusuar.

Di puncak tebing, kau ukir nama
sebagai pengawal keringat dan karamah;
di kursi parlemen, kau tegakkan komitmen:
dari Probolinggo hingga Jambi,
suara rakyat kaupahat di nisan kebijakan.
Kau tak hanya milenial yang menari di gelanggang,
tapi filsuf yang menanam benih di tanah retak.

Faisol Riza—
jejakmu adalah hujan yang merawat sumur-sumur tua,
pejuang yang tak pernah selesai bergerak:
dari pesantren ke gedung DPR, hingga Wakil Menteri Perindustrian Indonesia.

Dari hilang menjadi abadi.
Selamat datang di setiap zaman yang memanggil,
di mana keadilan masih menunggu pijar.

 

@Amalia Hotel, Bandar Lampung, 27 Mei 2025

 

Demikianlah postingan puisi yang redaksi kirka.co suguhkan untuk para khalayak pembaca. Semoga karya puisi di atas bermanfaat dan memberikan inspirasi. Sekian dan terima kasih. (*)