Kirka – Memasuki periode 2025-2026, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta PDRB per kapita Kabupaten Pringsewu diproyeksikan bakal mengalami lonjakan yang signifikan.
Optimisme itu didorong oleh stabilitas iklim daerah pasca pemilu serta mulai pulihnya sejumlah sektor kunci penggerak ekonomi.
Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menilai ekonomi Pringsewu secara historis telah menunjukkan daya tahan yang luar biasa.
Selama satu dekade terakhir, rata-rata pertumbuhan tahunan daerah ini konsisten berada di angka 4,5 persen hingga 5 persen.
“Kini, Pringsewu menargetkan lompatan pertumbuhan yang lebih tinggi.
“Jika pada tahun 2023 laju pertumbuhan berada di kisaran 4,8 persen, maka pada tahun 2025 pemerintah daerah berpeluang menyentuh angka 5,7 persen,” ujar Mahendra, Kamis, 5 Maret 2026.
Tren positif tersebut, lanjut Mahendra, diperkirakan akan terus menanjak dan mencapai puncaknya di angka 6,0 persen pada tahun 2026.
Peningkatan ditopang oleh optimalisasi digitalisasi ekonomi serta pemanfaatan maksimal di sektor pariwisata.
Sinergi APBD dan Fiskal
Kunci utama untuk merealisasikan target ambisius tersebut terletak pada sinergi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) di era kepemimpinan Bupati Riyanto dan DPRD periode 2024-2029.
Mahendra menganalisis, dengan mengacu pada Teori Pertumbuhan Endogen, investasi pada sumber daya manusia dan inovasi akan menjadi motor utama pertumbuhan Pringsewu ke depan.
Kebijakan fiskal yang ekspansif, khususnya yang diarahkan pada belanja modal infrastruktur dan subsidi sektor riil, diharapkan mampu memacu produktivitas marjinal modal.
“Pemerintah daerah berupaya mengisi celah saat sektor swasta masih dalam masa pemulihan.
“Peran belanja pemerintah di sini bertindak sebagai stimulus utama untuk memastikan roda ekonomi berputar lebih cepat dan merata,” jelas eksponen 98 tersebut.
Fondasi Era Sujadi
Meski menatap target baru, loncatan pertumbuhan ini diakui tidak lepas dari fondasi kokoh yang telah diletakkan oleh bupati sebelumnya, H. Sujadi Saddat.
Selama memimpin pada periode 2011–2016 dan 2017–2022, Pringsewu dinilai sukses melakukan transformasi birokrasi dan membangun infrastruktur dasar secara masif.
“Keberhasilan era kepemimpinan Bapak Sujadi dalam menjaga stabilitas PDRB dan menekan angka kemiskinan ekstrem lewat peningkatan pendapatan per kapita, kini menjadi modal sosial dan ekonomi yang sangat berharga bagi pemerintahan saat ini,” tambah Mahendra.
Diversifikasi
Secara kuantitatif, struktur ekonomi Pringsewu ke depan masih akan ditopang oleh tiga pilar utama.
Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dipastikan tetap menjadi penyumbang terbesar melalui intensifikasi lahan padi dan budidaya ikan air tawar.
Selain itu, predikat Pringsewu sebagai Kota Jasa membuat sektor perdagangan besar dan eceran kian menggeliat karena posisinya yang strategis sebagai pusat gravitasi ekonomi bagi kabupaten-kabupaten tetangga.
Namun, Mahendra menyoroti bahwa sektor Industri Pengolahan akan menjadi faktor pembeda dalam dua tahun ke depan.
Transformasi dari sekadar penjualan komoditas mentah menjadi produk jadi bernilai tambah tinggi diprediksi akan mengerek kontribusi sektor industri terhadap PDRB.
“Jika sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha berjalan konsisten, Pringsewu tidak hanya akan sekadar menjadi lumbung pangan di Provinsi Lampung, tetapi juga akan menjelma sebagai magnet investasi yang sangat kompetitif,” pungkasnya.






