KIRKA – Mahasiswa jalur mandiri Fakultas Kedokteran Unila dukung KPK memberantas dugaan korupsi penerimaan mahasiswa baru seleksi mandiri.
Salah satu mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Unila jalur mandiri, dari Prodi Farmasi, Ghozi Purna Atmaja, mengaku kaget terhadap OTT KPK atas Rektor Unila Karomani yang sudah dinonaktifkan.
“Aku sehabis ikut ospek kaget Rektor kena OTT, enggak tahu benar atau tidaknya, sekarang lagi diproses oleh hukum. Kita dukung KPK,” tegas Ghozi saat ditemui di Fakultas Kedokteran pada Selasa, 23 Agustus 2022.
Baca Juga: Komarudin Ungkap Perilaku Koruptif Karomani di Jalur Mandiri Unila
Warga Bandar Lampung alumni YP Unila ini mengatakan status tersangka yang disematkan KPK kepada pimpinan kampusnya tidak mengurangi rasa kebanggaannya untuk kuliah di Kampus Hijau.
“Kalau menurut aku, kebanggaan itu tidak terlalu berpengaruh. Soalnya kan Fakultas Kedokteran sudah berdiri lama. Kalau rektor, karena ini PTN, mungkin bisa diganti orang lain yang lebih baik lagi,” jelas dia.
“Di lingkungan keluarga dan teman-teman gak semua yang ledek,” lanjut Ghozi.
Dia menyampaikan ada sekitar 97 orang di Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran Unila yang mayoritas diterima lewat jalur SBMPTN.
“Aku masuk lewat jalur mandiri, lumayanlah bayarnya, tapi gak terlalu mahal juga. Aku SPI-nya sekitar Rp40 juta,” kata dia.
Tetap Bangga Kuliah di Fakultas Kedokteran Unila
KPK menetapkan Rektor Unila Karomani, Wakil Rektor I Heryandi, dan Ketua Senat Muhammad Basri sebagai tersangka korupsi pada Minggu, 21 Agustus 2022, setelah OTT di Bandung pada Sabtu, 20 Agustus 2022.
Penyidik KPK intensif melakukan pemeriksaan di Gedung Rektorat, Senin, 22 Agustus 2022.
Dan hari ini, penyidik KPK terpantau melakukan pemeriksaan di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Hukum Unila.
Baca Juga: Akhirnya KPK Geledah Gedung Fakultas Kedokteran Unila
Ghozi Purna Atmaja mengatakan dirinya tidak merasa risih dengan hadirnya KPK dan tetap bangga kuliah di Fakultas Kedokteran Unila.
“Karena akreditasinya bagus dan banyak lulusan dari sini yang berkompeten. Teman-teman aku yang masuk belajar di sini, alhamdulilah, gak ada yang nyogok dan banyak juga yang lewat SBMPTN,” kata dia.
“Untuk yang nyogok, saya juga kurang tahu,” pungkas dia.
Sementara tiga mahasiswi lainnya, mengaku memilih Fakultas Kedokteran Unila karena dorongan orangtua. Mereka diterima lewat jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
“Memilih kuliah di Lampung karena Mama aku orang sini. Jadi ikut Mama,” kata Avis warga Bekasi.
“Soal kebanggaan, sebenarnya biasa aja, kayak gak ada pengaruhnya juga. Teman-teman gak ada yang ngeledekin, saling menjaga,” ujar Avis.
Pun temannya, Sabrina, warga Bandar Lampung menyampaikan hal senada.
“Pilih FK Unila karena dorongan orangtua dan minat juga,” singkat dia.
Dinda warga Telukbetung, Bandar Lampung, memilih kuliah di Universitas Lampung karena tidak diizinkan melanjutkan pendidikan ke luar kota.
“Tahu Rektor kena OTT. Kemarin bayar UKT kurang dari Rp15 juta. Pilih FK Unila karena gak boleh kuliah ke luar daerah,” kata dia.
Dinda selaku mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Unila dukung KPK dan mengatakan tidak setuju dengan praktik suap di dunia pendidikan.
“Daripada nyogok di sini, mending masuk swasta yang lebih bagus,” pungkas Dinda.
Baca Juga: Jalur Mandiri Perguruan Tinggi Tidak Transparan dan Akuntabel






