Kirka – Eksponen 98 Mahendra Utama menyatakan Indonesia mengantongi seluruh prasyarat kuat untuk memenangkan pertarungan kredibilitas pasar modal melawan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Perombakan struktural Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berjalan beriringan dengan ketangguhan pertumbuhan ekonomi nasional menjadi modal utama menghadapi tekanan lembaga penyusun indeks global asal Amerika Serikat.
Keputusan MSCI membekukan penyesuaian berkala (rebalancing) indeks saham sekaligus melontarkan ancaman penurunan kasta pasar modal Indonesia ke level standalone market sempat menggoyang sentimen lantai bursa.
Kendati demikian, Mahendra menegaskan persoalan yang tengah dihadapi bukan sekadar urusan teknis perhitungan indeks, melainkan ujian kepercayaan terhadap kualitas institusi pasar modal tanah air.
“Keputusan MSCI mungkin sanggup mengguncang pergerakan harga saham dalam jangka pendek, tetapi tidak akan mampu mengalahkan arah reformasi struktural yang sedang berjalan.
“Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memiliki seluruh prasyarat untuk keluar sebagai pemenang,” ujar Mahendra Utama, Jumat, 23 Oktober 2026.
Menurut Mahendra, sikap MSCI terhadap bursa domestik tergolong terlalu keras apabila diukur dari kekuatan ekonomi riil Indonesia.
Pandangan senada juga disampaikan sejumlah pelaku pasar global, salah satunya analis Alethia Capital, Angus Mackintosh.
“Masalah Indonesia adalah kurangnya bukti implementasi dan kegagalan memberikan sanksi,” ungkap Angus Mackintosh sebagaimana dikutip Mahendra untuk menegaskan bahwa akar persoalan terletak pada penegakan aturan, bukan rapuhnya fundamental ekonomi nasional.
Berangkat dari fakta di lantai bursa, Mahendra mengaitkan dinamika pasar modal dengan teori ekonomi kelembagaan yang digagas peraih Nobel Ekonomi, Douglass North.
Dalam kerangka ekonomi kelembagaan, sebuah institusi berfungsi memangkas ketidakpastian guna mendorong masuknya investasi produktif jangka panjang.
Prinsip kepastian kelembagaan juga sejalan dengan konsep pasar efisien (Efficient Market Hypothesis) yang menuntut keterbukaan informasi secara merata.
Melalui distribusi informasi yang transparan, pergerakan harga saham di papan perdagangan akan mencerminkan nilai fundamental perusahaan secara akurat.
“Artinya, kunci kemenangan melawan tekanan MSCI terletak pada reformasi struktural yang terukur di lapangan, bukan sekadar retorika,” tegas Mahendra.
Gebrakan Regulasi
Tuntutan pembenahan tata kelola bursa langsung dijawab secara konkret oleh pemerintah di bawah komando Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah bersama otoritas bursa mempercepat agenda demutualisasi BEI guna memisahkan keanggotaan bursa dari hak kepemilikan, sehingga potensi benturan kepentingan dapat ditekan.
Selain demutualisasi, regulator turut menggandakan batas minimum saham publik (free float) dari 7,5 persen menjadi 15 persen agar likuiditas perdagangan saham semakin dalam.
Pada saat bersamaan, porsi batas investasi lembaga dana pensiun dan asuransi di pasar modal dinaikkan secara drastis dari 8 persen menjadi 20 persen.
Langkah perombakan regulasi pasar modal diperkuat oleh sikap politik Kepala Negara yang menolak tunduk pada tekanan spekulan luar.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan, “Bangsa Indonesia tidak takut kepada siapapun dan tidak akan mundur“.
“Ketegasan sikap Presiden Prabowo yang dibarengi kebijakan nyata di sektor pasar modal merupakan sinyal pembenahan struktural yang selama puluhan tahun ditunggu oleh para pelaku pasar,” tutur Mahendra, yang dikenal sebagai aktivis gerakan reformasi 1998.
Di luar perombakan regulasi bursa, daya tahan Indonesia juga ditopang oleh capaian makroekonomi yang solid di tengah gejolak global.
Sepanjang tahun 2025, perekonomian nasional tercatat tumbuh 5,11 persen dan kembali melaju hingga 5,61 persen pada kuartal I-2026, dengan sasaran pertumbuhan berkisar 5,4 hingga 5,6 persen untuk keseluruhan tahun 2026.
Kinerja makroekonomi yang ekspansif tercermin pula pada nilai kapitalisasi pasar BEI yang telah melampaui Rp15.800 triliun.
Daya tahan likuiditas lantai bursa kini disangga oleh lebih dari 20 juta investor domestik yang siap menjadi bantalan utama tatkala arus modal asing keluar dari pasar saham nasional.
Berbekal panduan pembenahan kelembagaan sebagai kompas serta ditopang fakta kekuatan ekonomi domestik sebagai bahan bakar, Mahendra optimistis pasar modal Indonesia justru akan tumbuh lebih tangguh pasca gejolak MSCI.
“Kunci utamanya terletak pada konsistensi eksekusi kebijakan di lapangan, bukan sekadar mengejar atau mempertahankan status emerging market semata,” tutup Mahendra Utama.






