Visi Strategis Prabowo: Kedaulatan Energi Lewat CNG Merah Putih

Visi Strategis Prabowo: Kedaulatan Energi Lewat CNG Merah Putih
Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan transisi dari LPG (kiri) ke CNG Merah Putih (kanan) demi mewujudkan kedaulatan energi nasional serta menekan ketergantungan impor. Foto: Arsip Wiki/Kirka/Iz

Kirka – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tengah memacu percepatan transisi penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) menuju Compressed Natural Gas (CNG) Merah Putih.

Langkah strategis memangkas kebergantungan suplai gas asing mendapat sokongan penuh dari Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama.

Dukungan kuat bukan tanpa landasan data. Angka konsumsi LPG domestik saat sekarang menembus 8,6 juta ton per tahun.

Besarnya permintaan berbanding terbalik dengan kapasitas produksi dalam negeri yang baru mencapai angka 1,7 juta ton.

Kesenjangan kuota memaksa negara mendatangkan bahan bakar secara masif.

Praktik pembelian dari pihak luar menggerus cadangan devisa hingga Rp137 triliun setiap tahun, belum termasuk beban subsidi pemerintah yang menyentuh angka Rp80 triliun hingga Rp87 triliun.

Fakta ketimpangan suplai membuat Kepala Negara langsung bertindak.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menerima arahan tegas dari istana agar segera mengeksekusi program diversifikasi bahan bakar dapur.

“Sekarang kita fokus itu adalah percepatan peralihan LPG-CNG,” ucap Bahlil memastikan komitmen melepaskan diri dari jerat energi impor.

Mencermati langkah sigap pemerintah, Mahendra Utama menegaskan peralihan sumber energi membawa pesan penting bagi kemandirian bangsa.

Substitusi komoditas harus dimaknai lebih dari sekadar mengganti jenis bahan bakar.

“Langkah pemerintah bukan sekadar substitusi komoditas, melainkan wujud nyata politik kedaulatan negara.

“Gas bumi lokal harus tampil sebagai tulang punggung pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga,” tegas Mahendra, Minggu, 27 September 2026.

Ia membedah fenomena peralihan energi melalui kerangka kerja Multi Level Perspective (MLP) gagasan akademisi Frank Geels.

Menurutnya, sebuah perubahan besar di sektor ketahanan nasional selalu berangkat dari sebuah krisis.

“Transisi sosio teknis mutlak membutuhkan tekanan eksternal layaknya fluktuasi harga global serta ketidakpastian geopolitik.

“Tekanan dari luar membuka jendela peluang bagi inovasi baru layaknya CNG Merah Putih untuk menantang rezim energi mapan,” urainya.

Keseluruhan ekosistem yang mulai terbangun berkat arahan presiden tak luput dari pantauan sang pemerhati.

Ia melayangkan pujian atas sinergi lintas institusi yang sedang berjalan simultan.

“Apresiasi patut diberikan kepada Presiden Prabowo yang menjadikan ketahanan energi sebagai prioritas.

“Begitu pula kepada Menteri ESDM yang gigih mengawal uji coba tabung bersama PT Pindad,” kata Mahendra.

Dorongan proaktif Danantara kepada Pertamina guna memperkuat pasokan gas lokal turut mendapat acungan jempol.

Ia meyakini integrasi jaringan gas lewat penyiapan infrastruktur Pertagas dari hulu ke hilir sanggup menekan angka kebergantungan suplai asing secara drastis.

“Kolaborasi lintas lembaga dari Pertamina, Danantara, hingga Pindad benar-benar menjadi fondasi kuat menuju era kemandirian energi nusantara,” kata Mahendra.