KIRKA – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung atau FKIP Unila gelar pelatihan parenting anak disabilitas, Minggu, 27 November 2022.
FKIP Unila menggandeng orangtua anak disabilitas yang tergabung dalam komunitas Lampung Mendengar.
“Kegiatan ini untuk membantu orangtua dalam pengasuhan anak disabilitas, terutama pada pengembangan integrasi sensori motorik,” kata Ketua Unit Kerjasama FKIP Unila, Dr Fitri Daryanti MSn, dalam keterangannya.
Fitri Daryanti menjadi motor penggerak pelatihan parenting atau pengasuhan pada anak disabilitas.
Mengawali kegiatan pelatihan parenting, sejumlah anak disabilitas mengikuti terapi sensori motorik pada anak berkebutuhan khusus dengan menari.
Aktivitas menari dipandu oleh tim Prodi Tari FKIP Unila.
Rasa haru, bangga, dan tak percaya, menyeruak di wajah para orangtua menyaksikan penampilan buah hatinya menari Tor-Tor dan tarian modern.
“Kegiatan ini menjadi awal dari kerjasama antara FKIP Unila dengan komunitas Lampung Mendengar dalam pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus,” ujar Fitri Daryanti.
Dia menjelaskan anak dengan disabilitas pendengaran memiliki keterbatasan pada indera pendengaran, yang dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu tuli (deaf) dan kurang dengar (hard of hearing).
“Tuli adalah indera pendengaran yang mengalami kerusakan dalam taraf berat hingga tidak berfungsi,” jelas dia.
Sementara, kurang dengar adalah kerusakan pada indera pendengaran yang masih dapat berfungsi, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids).
“Anak-anak dengan gangguan pendengaran sangat rentan menghadapi stereotip, tekanan, diskriminasi, dan audism,” kata dia.
Baca Juga: Penyandang Disabilitas Terkendala Stigma dan Aksesibilitas
Audism, lanjut Fitri, adalah anggapan yang salah tentang anak tuna rungu akan mempunyai kecerdasan yang kurang dibanding anak normal.
“Kesalahpahaman dan tekanan pada anak dengan gangguan pendengaran ini akan sangat mengganggu proses belajar dan merusak perkembangan emosi dan sosial,” pungkas dia.
Pelatihan parenting untuk anak disabilitas sangat penting untuk mengembangkan integrasi sensori.
Psikolog, Ratna Widiastuti, menjelaskan pentingnya mengembangkan integrasi sensori pada anak berkebutuhan khusus.
“Hal ini merupakan kemampuan anak untuk merasakan, memahami, dan mengatur informasi sensorik dari gerak tubuh (motorik) dan lingkungannya,” kata dia
Konselor dan Dosen Unila ini mengatakan integrasi sensorik tercermin dalam perkembangan, pembelajaran, dan perasaan anak tentang dirinya sendiri.
Pada dasarnya, ujar Ratna, integrasi sensorik yang baik pada anak yang baru berkembang, akan membantunya dalam menyortir, mengatur, dan akhirnya menyatukan semua input sensorik ke dalam fungsi otak yang utuh.
“Ketika fungsi sensori anak utuh dan seimbang, maka gerakan tubuh akan menjadi sangat adaptif, belajar menjadi mudah, dan tentunya memunculkan perilaku ‘baik’ secara alami,” kata dia.






