Sehingga, melalui integrasi sensori motorik, perkembangan sosial dan emosional anak menjadi lebih baik dan memberikan landasan yang baik untuk menerima dunia realitasnya.
“Karakteristik utama dari sensori pada anak-anak dengan gangguan pendengaran adalah kemampuan visualnya,” ujar Ratna.
Anak disabilitas memiliki kelebihan berupa ketajaman visual peripheral, yaitu kemampuan melihat ke sisi kiri dan sisi kanan dengan baik di saat bersamaan dengan melihat ke depan.
“Kelebihan ini perlu dioptimalkan selama pendampingan pembelajaran, di antaranya adalah dengan terapi sensori motorik,” kata dia.
Menurut Ratna Widiastuti, orangtua memiliki peran yang besar dalam usaha mengembangkan integrasi sensorik anak.
“Aktivitas terapi sensori motorik yang dirancang dengan baik akan mendukung perkembangan anak,” tutup dia.
Komunitas Lampung Mendengar mengapresiasi FKIP Unila atas kerjasama yang terjalin di antara keduanya.
Praktik baik menari bersama memperlihatkan begitu cepatnya anak-anak komunitas Lampung Mendengar belajar tari Tor-Tor dan tarian modern.
Wajah ceria dan gerakan riang terintegrasi apik dengan irama musik. Beberapa orang tua menyampaikan ketakjuban mereka akan keterampilan dan unjuk bakat anak-anak mereka.
Ketua Lampung Mendengar, Novi Srawaili MPkim, berharap kegiatan pelatihan dan pendampingan anak disabilitas ini akan terus berlanjut dan bertambah.
Novi Srawaili mengapresiasi FKIP Unila gelar pelatihan parenting anak disabilitas.
“Terbukti bahwa dengan aktivitas tari membantu anak menemukan kegiatan yang menarik, menunjukkan bakat, dan memudahkan anak dalam meningkatkan integrasi sensorik motoriknya,” kata dia.






