Dari Stop Impor Solar hingga Loncatan Menuju Kemandirian Energi: Menghitung Penghematan APBN 2026-2029

Dari Stop Impor Solar hingga Loncatan Menuju Kemandirian Energi: Menghitung Penghematan APBN 2026-2029
Tampilan visual Kilang Pertamina Balikpapan dengan representasi penghematan dana negara. Proyek ini diproyeksikan menghemat APBN sebesar Rp 272 Triliun pada periode 2026-2029. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan resmi mengakhiri era ketergantungan Indonesia terhadap kucuran solar asing.

Langkah radikal yang dipicu oleh instruksi Presiden Prabowo Subianto ini bukan sekadar pencapaian infrastruktur, melainkan diproyeksikan menjadi perisai yang mengamankan ruang fiskal negara hingga Rp272 triliun pada kurun 2026-2029.

Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama, menilai kebijakan penyetopan impor yang dideklarasikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia awal tahun ini adalah transisi struktural yang masif.

Ia memandangnya sebagai manuver yang menggeser posisi Indonesia dari negara rentan defisit menjadi penguasa absolut atas kebutuhan energinya sendiri.

“Kapasitas 360 ribu barel per hari dari Balikpapan itu game changer. Di saat kawasan Teluk Persia memanas dan lalu lintas Selat Hormuz disandera konflik geopolitik, Asia panik.

“Tapi kita justru punya bantalan domestik yang kuat. Ini bukan lagi utopia,” papar Mahendra di Bandarlampung, Senin, 30 Maret 2026.

Suntikan untuk APBN

Menyumbat keran pasokan luar negeri sebanyak 4,9 hingga 5 juta ton per tahun berdampak instan pada kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hitung-hitungan di atas kertas, kas negara berpotensi menahan kebocoran devisa sekitar Rp68 triliun setiap tahunnya.

Mahendra memproyeksikan, jika konsumsi stabil, akumulasi penghematan dalam empat tahun ke depan mampu menyentuh angka Rp272 triliun.

Angka tersebut belum memasukkan variabel penguatan nilai tukar Rupiah akibat berkurangnya tekanan dolar untuk belanja migas.

“Uang triliunan ini adalah darah segar bagi perekonomian nasional. Jika gagasan Presiden Prabowo untuk mendistribusikan dana substitusi impor ini terealisasi, setiap daerah punya modal raksasa.

“Ada peluang suntikan dana pembangunan hingga Rp 1 triliun per kabupaten atau kota tiap tahunnya,” tegas analis pembangunan tersebut.

Pondasi Hilirisasi dan Rapor Merah

Pemangkasan impor bahan bakar diesel ini juga menjadi nyawa bagi ambisi industrialisasi. Kelancaran rantai pasok smelter nikel, tembaga, hingga pabrik baterai kendaraan listrik mutlak membutuhkan pasokan energi murah yang kebal terhadap guncangan harga minyak global.

Mahendra menggarisbawahi bahwa konsep Food Energy Water Nexus yang digagas Bappenas kini mulai menemukan pijakan nyatanya.

Kedaulatan solar memastikan biaya logistik dan produksi dalam negeri kompetitif, sehingga nilai tambah hilirisasi tidak menguap ke tangan asing.

Kendati demikian, ia mewanti-wanti agar pemerintah tidak terjebak euforia.

Realitas lapangan menunjukkan Indonesia masih didera rapor merah di sektor lain, ketergantungan bensin (gasoline) yang masih berada di angka 50 persen, serta impor LPG yang menyentuh level kritis 70 persen.

Oleh karena itu, Mahendra memetakan tiga tantangan krusial yang mendesak diselesaikan agar kemandirian energi tidak sebatas slogan:

  1. Mitigasi Transisi B50: Rencana penerapan wajib biodiesel B50 pada semester kedua 2026 harus diukur cermat, terutama menyangkut jaminan keberlanjutan industri sawit dan kesesuaian spesifikasi mesin-mesin logistik.
  2. Tata Niaga Ritel: Regulasi yang mewajibkan SPBU swasta internasional (seperti Shell, BP, dan Vivo) untuk menyerap produk Pertamina akan menjadi ujian berat bagi mekanisme pasar dan efisiensi harga di tingkat konsumen.
  3. Ekuitas Distribusi: Kapasitas raksasa di Kalimantan Timur tidak akan berdampak maksimal tanpa jaringan logistik laut yang mumpuni ke wilayah Timur Indonesia. Disparitas harga tetap akan menjadi ancaman di daerah kepulauan.

“Keberhasilan di sektor solar ini wajib menjadi purwarupa yang membuktikan bahwa target menyetop impor bensin pada 2029 adalah hal logis.

“Ketahanan energi bukan semata soal tangki yang penuh, tapi memastikan pasokan itu terjangkau, andal, dan dinikmati merata oleh seluruh rakyat,” pungkasnya.