KIRKA – Anggota DPR RI 2009-2014, Achsanul Qosasi dorong Gerakan Hemat BBM pada pengelola negara setelah PT Pertamina (Persero) kembali menaikkan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex di 34 provinsi.
Baca Juga : Bima Arya Mengajak Mahasiswa Itera Mengikuti Jejak Greta Thunberg
Harga ketiga jenis BBM tersebut resmi naik mulai hari ini, Minggu, 10 Juli 2022, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 62K/12/MEM/2020.
“Satu-satunya cara menghemat BBM adalah mengurangi pemakaian BBM,” ujar Achsanul Qosasi melalui akun media sosial miliknya Twitter @AchsanulQosasi.
Menurut dia, Gerakan Hemat BBM harus dimulai dari Pengelola Negara.
“Misal dengan mengurangi rombongan iring-iringan kunjungan. Walupun sekarang masa pencitraan,” kata pria kelahiran Madura ini.
Achsanul Qosasi sudah menduga akan terjadi pergeseran penggunaan BBM dari jenis Pertalite ke Pertamax.
Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR ini menuturkan pada awalnya Pertalite didesain oleh direksi lama PT Pertamina (Persero) untuk mengurangi konsumsi masyarakat terhadap Premium.
“Premium dibatasi, Pertalite digenjot,” ujar dia.
Lewat kebijakan tersebut, lanjut dia, pemerintah telah berhasil menurunkan subsidi BBM dari Rp210 T menjadi Rp79 T dalam lima tahun.
“Artinya, selama lima tahun, rakyat membantu negara, PT Pertamina (Persero), Rp20 T per tahun. Tak ada gaduh, semua dilakukan demi membantu Negara. Sebuah harmoni yang seharusnya,” kata dia.
“Dan sekarang Pertalite juga dibatasi. Memaksa rakyat pindah ke Pertamax yang akan bersaing dengan Shell, Total, Vivo, AKR. BBM pasar bebas,” lanjut Achsanul Qosasi.
Menurut dia, rakyat pasti siap membantu PT Pertamina (Persero) jika melakukan efisiensi untuk mengurangi beban.
“Karena persaingan BBM akan ketat, yang efisien yang menang. Rakyat akan rasional, jika harga Pertamax tak bisa bersaing, maka pasar akan memilih yang terbaik, walaupun sedikit lebih mahal,” ujar dia.
Achsanul Qosasi dorong Gerakan Hemat BBM pada pengelola negara mengingat PT Pertamina (Persero) juga belum merealisasikan perintah Presiden Jokowi untuk membangun kilang baru.
“Indonesia terakhir bangun kilang 1994. Negara lain siap investasi kilang, UEA, Oman, tak lanjut, berhenti ditahap MoU, entah karena mereka tak capable atau faktor lain,” kata dia.
Saat ini, terdapat 74 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), 70 persennya kontraktor asing, yang melakukan pengeboran Migas di Indonesia dengan lifting sebesar 700 ribu barel per hari.
“Jangan sampai mereka ambil minyak kita, justru dijual dengan harga murah di negaranya. Mereka cadangkan untuk kepentingan rakyatnya. Sementara kita tidak punya kilang yang cukup,” ujar dia.
Achsanul Qosasi juga meminta pemerintah tidak membandingkan penyesuaian harga BBM di Indonesia dengan negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapura dan Thailand.
“Mereka bukan negara penghasil minyak. Jadi wajar harga BBM lebih mahal. Di Asia Tenggara, negara penghasil minyak setelah kita adalah Brunei Darussalam. Harga BBM RON 90 di Brunei Rp5.500 per liter dengan subsidi negara,” jelas dia.
Baca Juga : PT PLN dengan 9 BUMN Wujudkan Energi Bersih
Achsanul Qosasi sekali lagi menekankan pentingnya PT Pertamina (Persero) melakukan efisiensi serta mendorong pengelola negara melakukan Gerakan Hemat BBM.
“Menghemat BBM bukan hanya dengan menekan subsidi, tapi mengurangi pemakaian BBM. Rakyat akan manut dan mengikuti,” kata dia.






