Geopark Krakatau: Membangun Peradaban dari Abu Vulkanik untuk Lampung dan Banten

Geopark Krakatau: Membangun Peradaban dari Abu Vulkanik untuk Lampung dan Banten
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mendorong kolaborasi Lampung dan Banten jadikan Kepulauan Krakatau sebagai UNESCO Global Geopark. Foto: Arsip pribadi/Kirka

Kirka – Rentetan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) sepanjang 2026 kembali memberi sinyal alam bagi Provinsi Lampung dan Banten.

Fenomena vulkanik rupanya bukan sekadar ancaman kebencanaan, melainkan menyimpan peluang besar untuk diubah menjadi warisan dunia melalui konsep Geopark Krakatau.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang sisa-sisa material letusan di kawasan Selat Sunda sejatinya merupakan pondasi bagi peradaban baru.

Menurutnya, rekam jejak geologi GAK memiliki signifikansi global yang pantas mendapat pengakuan internasional.

“Lampung dan Banten punya ikatan kuat akibat fenomena alam letusan masa lampau.

“Kita harus mengubah trauma masa lalu menjadi kebanggaan bersama dengan mendorong Kepulauan Krakatau sebagai UNESCO Global Geopark,” kata Mahendra, Minggu, 6 September 2026.

Secara regulasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah memasukkan Kepulauan Krakatau ke dalam daftar usulan geopark kelas dunia.

Rencana besar mendapat dukungan penuh dari sejarah keanekaragaman hayati kawasan sekitar, mengingat Taman Nasional Ujung Kulon lebih dulu menyandang status Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1992.

Gagasan pengembangan kawasan lintas selat bakal membawa manfaat berlapis bagi kedua wilayah.

Aspek utama menyasar perlindungan situs sejarah maupun geologi pasca-tragedi dahsyat 1883.

Dari sisi ekonomi, pembukaan lapangan kerja baru terbuka lebar lewat ekowisata berbasis keilmuan.

Sementara untuk bidang pendidikan, kawasan kepulauan dapat langsung dimanfaatkan menjadi laboratorium alam terpadu bagi generasi muda.

Lebih jauh, Mahendra mengingatkan pentingnya peran kearifan lokal. Masyarakat pesisir memiliki tradisi kultural seperti ngebuyu serta pandangan hidup yang menempatkan Anak Krakatau sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem mereka.

Akar budaya warga pesisir jelas menjadi modal sosial paling berharga demi memuluskan penetapan status geopark.

“Kepercayaan dan tradisi masyarakat adalah nyawa dari geopark itu sendiri.

“Pendekatan berbasis kearifan lokal akan membuat program pelestarian berjalan beriringan dengan denyut nadi perekonomian warga,” tambahnya.

Agar gagasan lintas provinsi tidak berhenti sebatas wacana, ia menyarankan empat tindakan konkret bagi para gubernur.

Poin pertama menuntut kolaborasi nyata kepala daerah untuk segera memproses pengajuan Kepulauan Krakatau sebagai Geopark Nasional sebagai pintu masuk menuju penetapan tingkat dunia.

Berikutnya, pemerintah daerah perlu mewajibkan muatan lokal bertema sejarah dan kearifan Krakatau di setiap bangku sekolah.

Gagasan ketiga menyasar modifikasi pelaksanaan Festival Krakatau agar tidak berhenti pada sekadar pesta hiburan rakyat semata, melainkan berevolusi wujud menjadi pekan literasi kebencanaan sekaligus perayaan kekayaan alam.

Terakhir, pembangunan pusat dokumentasi serta museum bersama di pesisir Selat Sunda mendesak untuk segera direalisasikan.

“Letusan GAK adalah pengingat bahwa kedua daratan tidak pernah benar-benar terpisah.

“Mari jadikan abu vulkanik sebagai landasan kuat untuk membangun peradaban masa depan,” pungkas Mahendra.