Kirka – Upaya mengentaskan kemiskinan butuh lebih dari sekadar bantuan sosial dadakan.
Presiden Prabowo Subianto kini mengusung dua pondasi utama untuk mencetak generasi baru, perut yang kenyang dan akses pendidikan merata.
Gagasan ia gaungkan pada Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat, 14 Agustus 2026.
Di hadapan ratusan anggota parlemen, Prabowo membawa sepenggal cerita dari pelosok Papua Selatan soal Kristina Beno.
Kristina adalah siswi kelas 6 SD di Merauke yang rutin menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Bagi sebagian orang, satu piring makanan terlihat biasa. Bagi Kristina, satu piring makanan adalah tenaga untuk belajar,” ucap Prabowo.
Pesan kepala negara amat gamblang. Pantang ada pelajar yang memegang buku dengan perut berbunyi.
Apalagi, ancaman stunting atau tengkes masih membayangi satu dari empat balita Nusantara.
Karena program MBG menyasar puluhan juta anak tiap harinya, Prabowo menebar peringatan keras.
Ia mengharamkan segala bentuk pemotongan atau korupsi dana makan pelajar dan melabeli pelakunya sebagai manusia nirkemanusiaan.
Urusan nutrisi beres, pemerintah langsung menggarap ruang belajar.
Saat sekarang, 182 Sekolah Rakyat sedang dibangun, dengan 93 diantaranya berupa bangunan permanen.
Sasaran utamanya adalah anak-anak dari kelompok masyarakat paling bawah yang kerap kesulitan menjangkau sarana pendidikan layak.
“Strateginya adalah kita harus memutuskan lingkaran kemiskinan,” kata Prabowo.
Target selanjutnya, setiap kabupaten di seluruh penjuru Tanah Air wajib memiliki minimal satu Sekolah Rakyat.
Skema ganda yang dipacu pemerintah mendapat sorotan dari Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama.
Ia menilai kombinasi nutrisi dan bangku sekolah gratis ibarat jalan pintas paling rasional untuk mendongkrak nasib rakyat kecil.
Mahendra membedah pendekatan presiden menggunakan kacamata ekonom Gary Becker terkait teori modal manusia.
Intinya, pondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang sebuah negara selalu bermula dari investasi langsung pada sektor kesehatan serta kemampuan otak warganya.
“Membangun kualitas manusia tidak bisa setengah-setengah. Anak-anak butuh asupan nutrisi memadai agar daya tangkap otaknya maksimal saat menyerap pelajaran.
“Setelahnya, mereka butuh tempat menimba ilmu yang pantas,” ujar Mahendra memberikan analisis.
Selama pelaksanaan MBG beserta ekspansi Sekolah Rakyat bersih dari praktik culas, Mahendra sangat yakin jutaan keluarga perlahan bakal menetas dari jurang kemiskinan absolut.






