Tren PDRB Lampung Barat Melonjak, Sektor Basis Jadi Motor Utama

Tren PDRB Lampung Barat Melonjak, Sektor Basis Jadi Motor Utama
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama menyebut sektor basis pertanian dan perkebunan tetap menjadi motor utama yang mendongkrak PDRB daerah hingga menembus Rp10,77 triliun. Foto: Arsip Wiki/Kirka/Iz

Kirka – Perekonomian Kabupaten Lampung Barat mencatatkan tren positif sepanjang satu dekade terakhir.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) melonjak hampir dua kali lipat, dari Rp5,62 triliun pada 2016 menembus angka Rp10,77 triliun pada 2025.

Sektor basis pertanian, kehutanan, dan perikanan terbukti menjadi penopang utama lompatan ekonomi wilayah.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memaparkan bahwa trajektori (arah kebijakan) ekspansif ekonomi Lampung Barat terlihat gamblang dari lonjakan pendapatan rata-rata penduduk.

PDRB per kapita melesat dari Rp19 juta menjadi Rp33,74 juta dalam rentang waktu serupa, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) lima tahun terakhir sebesar 6,61 persen.

“Lonjakan per kapita secara langsung menggambarkan daya beli masyarakat yang makin kuat akibat pengelolaan potensi lokal yang tepat sasaran,” ungkap Mahendra, Rabu, 30 September 2026.

Merujuk pada kerangka teori basis ekonomi, ketahanan suatu daerah sangat bergantung pada kemampuan mengekspor barang maupun jasa ke luar wilayah.

Fakta empiris di Lampung Barat membuktikan kebenaran tesis terkait.

Sektor primer secara konsisten menyumbang angka di atas 43 persen terhadap total PDRB, dengan nilai ADHB bidang pertanian menyentuh Rp4,01 triliun sepanjang 2023.

Mengelaborasi pandangan ekonom Lincoln Arsyad, Mahendra menjelaskan esensi pembangunan daerah berakar dari proses pemerintah bersama masyarakat mengelola sumber daya demi penciptaan lapangan kerja baru.

Tiga elemen penggerak utama bekerja serentak mendorong tren positif grafik pendapatan daerah.

“Faktor pertama adalah tingginya permintaan eksternal terhadap komoditas andalan perkebunan seperti kopi, kakao, dan kelapa.

“Serapan pasar yang kuat langsung mempertebal margin keuntungan di tingkat petani,” urai Mahendra.

Faktor pendongkrak kedua datang dari konsumsi rumah tangga yang terus membesar seiring melimpahnya pundi-pundi pendapatan warga.

Ketiga, postur belanja pemerintah daerah berjalan sangat ekspansif usai masa pandemi berlalu, menyuntikkan perputaran uang bagi banyak bidang usaha skala kecil hingga menengah.

Efek domino dari kuatnya produksi komoditas dan belanja anggaran daerah berimbas langsung pada sektor perdagangan besar maupun eceran.

Bidang perniagaan ikut membukukan porsi kontribusi hingga 15,33 persen pada 2023, mempertegas gambaran aktivitas pasar lokal yang terus berputar aktif mendulang rupiah.