Kirka – Program Integrated Area Development (IAD) berbasis perhutanan sosial di Kabupaten Pesawaran terbukti mampu menggerakkan ekonomi masyarakat desa.
Menariknya, skema pengembangan wilayah terpadu sama sekali tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten maupun provinsi.
Fakta di lapangan terlihat langsung saat Wakil Bupati Pesawaran, Antonius Muhammad Ali, mendatangi Kelompok Tani Hutan (KTH) Agroforestri Lestari di kawasan hutan lindung Desa Sinar Harapan, Kecamatan Kedondong, Selasa, 29 September 2026 sore.
Ia datang bersama Ketua TP PKK Pesawaran, Cindy Aria Anton, untuk memastikan berjalannya roda ekonomi hijau di tingkat tapak.
“Implementasi IAD sama sekali tidak membebani anggaran kabupaten maupun provinsi. Skema pengembangan terpadu justru sangat membantu percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
“Pemkab dan Pemprov kini tinggal berdiri tegas menjalankan perannya sebagai regulator dan fasilitator,” kata Antonius, dilansir pada Rabu, 30 September 2026.
Peran fasilitator pemerintah daerah membuahkan hasil nyata.
Saat peninjauan sore itu, Fatoni selaku pengelola KTH Agroforestri Lestari dipertemukan langsung dengan Yudi Vaizol, pemilik Kedai Kopi Lebudia asal Bandar Lampung.
Pertemuan hulu dan hilir membuat petani memiliki kepastian pasar.
Kopi lokal bermerek Akarupa olahan kelompok tani kini langsung masuk ke rantai pasok kedai modern di perkotaan.
Dari sisi budidaya, petani menjaga kualitas lewat pola tumpang sari pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.
Tanaman kopi dan kakao bersanding dengan kemiri, pala, cengkeh, hingga pisang.
Mereka konsisten menggunakan pupuk organik ramah lingkungan guna menjaga kesuburan lahan secara berkelanjutan.
Peningkatan nilai tambah produk berjalan lancar seiring tersedianya sarana pengolahan pascapanen.
Bantuan mesin pengupas, mesin sangrai, hingga sarana pembuat espresso dari Pusat Penyuluhan Kehutanan BP2SDM Kementerian Kehutanan dimanfaatkan maksimal oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Petani Mandiri pimpinan Fatoni.
Keterampilan meracik kopi para petani pun naik kelas berkat pendampingan lintas sektor.
Praktisi roastery lokal Chaerul Saleh melatih teknis operasional, sementara dosen Pascasarjana Polinela Analianasari memperkuat metodologi pemrosesan standar akademis.
Fatoni kini tidak sekadar menjual biji mentah berharga murah.
Ia piawai mengolah varian Liberika anaerob hingga menyajikan seduhan manual V60 bagi para tamu.
Kualitas kopi asal Kedondong bahkan sudah diakui di tingkat nasional.
Fatoni sempat difasilitasi terbang ke Jakarta untuk memamerkan olahannya di Manggala Wanabakti.
Menteri Kehutanan mencicipi langsung seduhan sang petani, dan Wakil Menteri Kehutanan turut membeli produknya.
Keberhasilan konsolidasi kawasan yang melibatkan kementerian, dinas provinsi, pemerintah kabupaten, akademisi, hingga pihak swasta membawa dampak besar bagi pembangunan makro.
Kabupaten Pesawaran kini menjadi pendorong utama yang membawa Provinsi Lampung masuk ke dalam Peta Besar Multiusaha Kehutanan (MUK) Nasional.
Hutan lindung sukses berubah bentuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mensejahterakan warga tanpa menguras kas daerah.






