Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal: Pertanian adalah Ibadah, Kunci Kesejahteraan Rakyat

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal: Pertanian adalah Ibadah, Kunci Kesejahteraan Rakyat
Kunker Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal ke Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Foto: Arsip pribadi/Kirka/I

Kirka – Kunjungan kerja Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal ke Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat pada Rabu, 8 Juli 2026 memunculkan pendekatan segar dalam tata kelola pembangunan daerah.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai pandangan sang gubernur yang menempatkan aktivitas pertanian sebagai nilai ibadah merupakan strategi tepat untuk menggenjot etos kerja sekaligus kesejahteraan masyarakat.

Mahendra menjelaskan bahwa penyampaian gubernur di hadapan warga bukanlah sekadar pidato seremonial.

Pendekatan kultural yang dibawakan pemimpin daerah dinilai mampu menyentuh langsung aspek psikologis masyarakat pekerja keras di kawasan Suoh.

“Gubernur sangat jeli meramu filosofi lokal dan pedoman agama untuk membangkitkan semangat warga.

“Pesan tentang setitik embun yang melambangkan kesabaran serta segenggam tanah sebagai simbol kerja keras, sangat pas disampaikan di tengah masyarakat agraris,” ujar Mahendra.

Dalam agenda pertemuannya, Gubernur Mirza memang secara tegas mengingatkan bahwa Lampung Barat bukan sekadar batas wilayah administratif.

Kawasan penyangga alam tersebut berdiri kokoh di atas keteguhan, ketekunan petani, serta kedamaian warganya.

Dimensi Spiritual sebagai Penggerak Produktivitas

Lebih jauh, keterkaitan antara aktivitas bertani dengan ibadah mendapat sorotan khusus dari Mahendra.

Pada kesempatan tatap muka dengan warga, sang gubernur sempat menyinggung nilai-nilai keislaman melalui surat At-Taubah ayat 105 serta mengutip hadis mengenai sedekah dari bercocok tanam.

Menanggapi langkah tersebut, Mahendra menganalisis adanya keselarasan antara pesan spiritual dengan dorongan produktivitas ekonomi.

Pendekatan berbasis nilai keagamaan sering kali terbukti lebih ampuh menggerakkan roda ekonomi di tingkat akar rumput dibandingkan sekadar imbauan teknis.

“Ketika aktivitas menanam padi di sawah hingga menyiapkan makanan bagi keluarga dimaknai penuh sebagai pengabdian kepada Sang Pencipta, maka dedikasi dan kualitas kerja yang dihasilkan otomatis akan meningkat tajam,” kata Mahendra.

Konsep yang diutarakan gubernur dinilai sangat relevan dengan teori etos kerja, di mana kesadaran spiritual mampu bertransformasi menjadi kekuatan utama dalam menggerakkan pembangunan ekonomi.

Penguatan Lumbung Pangan lewat Modal Sosial

Secara geografis, Kecamatan Suoh bersama Bandar Negeri Suoh telah lama dikukuhkan sebagai sentra produksi padi utama.

Ketersediaan air melimpah dan tanah subur menjadikan kawasan perbukitan tersebut andalan utama penyediaan pangan bagi Provinsi Lampung.

Melihat potensi besar itu, Pemerintah Provinsi Lampung telah menyatakan komitmen serius untuk memperkuat sektor hulu hingga hilir pertanian secara konsisten.

Namun, Mahendra mengingatkan bahwa dukungan infrastruktur fisik dan bantuan benih harus selalu dibarengi dengan pemeliharaan modal sosial kemasyarakatan.

Semangat gotong royong, budaya saling membantu, serta kerukunan antar warga dari beragam latar belakang suku maupun agama merupakan fondasi ekonomi yang wajib dijaga.

Jaringan sosial serta rasa saling percaya antar petani di Lampung Barat dipastikan akan menjadi penentu utama keberhasilan program swasembada pangan pada masa mendatang.

“Kemakmuran Lampung Barat berbanding lurus dengan kesejahteraan seluruh rakyat Lampung.

“Budaya pantang menyerah dan mentalitas saling membantu akan membawa ketahanan pangan daerah menuju level yang jauh lebih tinggi,” pungkas Mahendra Utama.