Raih Dua Perunggu di Kejuaraan DKI, Pegulat Muda Lampung Jadi Aset Emas PON 2032

Raih Dua Perunggu di Kejuaraan DKI, Pegulat Muda Lampung Jadi Aset Emas PON 2032
Tiga pegulat muda Lampung, Rizky Alfandi (kiri), Rayyan Khalfani Farros Nugroho (kanan), dan Daffa Dimad Syihab (tengah), berpose usai berkompetisi di Kejuaraan Gulat Pelajar DKI Jakarta 2026. Foto: Arsip KONI/Kirka/I

Kirka – Dua pegulat belia asal Lampung sukses membawa pulang medali perunggu dari Kejuaraan Gulat Pelajar DKI Jakarta 2026.

Capaian di Hall Gulat PPOP Ragunan, Jakarta Selatan, pada 28-30 April lalu sekaligus memantapkan proyeksi pembinaan atlet menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2032.

Provinsi Lampung sendiri mengirimkan tiga wakil binaan klub AWC untuk turun gelanggang pada kategori gaya bebas Kelompok Umur 13 dan 15 tahun.

Di bawah asuhan pelatih Rina Safitri, Rizky Alfandi mengamankan perunggu pada kelas 52 kilogram putra.

Jejak serupa diikuti Rayyan Khalfani Farros Nugroho yang bertarung pada kelas 70 kilogram.

Sayangnya langkah satu utusan lain, Daffa Dimad Syihab, terhenti oleh wakil Kabupaten Kebumen sebelum mencapai babak empat besar.

Bagi sang pelatih, kompetisi tingkat nasional sangat dibutuhkan untuk mengasah mental bertanding atlet usia dini.

Selama masa persiapan, skuadnya lebih banyak menghabiskan waktu berlatih secara internal.

“Kejuaraan terbuka memberi kesempatan terbaik untuk memaksimalkan kemampuan anak-anak dalam pertandingan sesungguhnya,” ungkap Rina.

Hasil positif di ibu kota turut memantik optimisme Pengprov Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Lampung.

Ketua PGSI Lampung Maktub Djaiz menilai, jam terbang sejak dini merupakan investasi berharga demi menyiapkan kekuatan penuh saat Lampung dan Banten berstatus tuan rumah bersama PON XXIII kelak.

Para atlet yang bertanding sekarang rata-rata baru menginjak usia 13 sampai 15 tahun.

Saat perhelatan PON 2032 bergulir, mereka akan berada di kisaran usia 21 tahun, sebuah rentang umur emas untuk menorehkan prestasi puncak.

Walau sempat terkendala anggaran sehingga hanya bisa memberangkatkan tiga pegulat, raihan dua medali sudah cukup menjadi tolok ukur pembinaan daerah.

Maktub menegaskan pentingnya menyiapkan talenta berkualitas agar program regenerasi berjalan berkesinambungan.

Ke depan, pengurus daerah tidak sekadar bertumpu pada nomor gulat matras.

Potensi perolehan medali juga terbuka lebar dari nomor gulat pasir (beach wrestling).

“Evaluasi hasil kejuaraan sebelumnya memperlihatkan grafik memuaskan pada arena pasir, sehingga kami dan jajaran pengurus berkomitmen penuh mengerahkan dukungan bagi pembinaan atlet di semua nomor,” pungkasnya.