Kirka – Kebuntuan prestasi medali emas cabang olahraga atletik Provinsi Lampung akhirnya pecah di negeri tetangga.
Pelari gawang putri asal Kabupaten Pringsewu, Novi Anggun Lestari, berhasil merebut posisi puncak dan membawa pulang medali emas dari ajang 86th Singapore Athletic Association Open Championship, 15-17 April lalu.
Berlomba pada nomor lari gawang 400 meter, Novi memimpin balapan lewat torehan waktu tercepat 1 menit 04.04 detik.
Catatan waktu optimal sang atlet memaksa wakil DKI Jakarta, Siti Nurhaliza, bergeser ke posisi kedua dengan selisih jarak cukup meyakinkan, yakni 1:05.14 detik.
Sementara tempat ketiga diamankan pelari tuan rumah Singapura, Audrey Koh Shun Yi, yang menyelesaikan putaran pada angka 1:05.53 detik.
Kemenangan di Singapura seolah menjadi penawar dahaga panjang bagi dunia olahraga Lampung.
Sejak perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau 2012 silam, cabang atletik lokal terus mengalami kemarau medali emas.
Rentang waktu empat belas tahun tanpa gelar juara tertinggi membuat pencapaian Novi melampaui sekadar kemenangan individu, melainkan pemicu kebangkitan moral pembinaan kontingen daerah.
Perjuangan menembus trek mancanegara turut dilakoni rekan sekampung Novi, Galuh Chandra Hidayat.
Berpacu adu cepat, Galuh menyentuh garis finis pada urutan kedelapan lewat raihan waktu 1:56.93 detik.
Bersaing pada nomor serupa, pelari asal Indonesia lainnya, Fransisko Makaminang, menempati posisi keempat melalui torehan 1:53.65 detik.
Hasil kejuaraan lintas negara mempertegas potensi besar atlet muda binaan Pringsewu.
Novi dan Galuh kini menjelma menjadi amunisi jangka panjang bagi Lampung menyongsong agenda olahraga nasional.
Keduanya akan dipersiapkan secara matang untuk bertarung pada arena PON 2028, sekaligus merapatkan barisan saat memikul nama besar daerah kala bertindak selaku tuan rumah PON 2032 kelak.






