Sentuh 1,16 Persen, Inflasi Lampung Terbaik se-Indonesia

Sentuh 1,16 Persen, Inflasi Lampung Terbaik se-Indonesia
Ilustrasi perbandingan laju inflasi Provinsi Lampung yang berhasil menjadi yang terbaik se-Indonesia pasca Lebaran 2026. Foto: Arsip Istimewa/Kirka/I

Kirka – Laju kenaikan harga barang dan jasa di Provinsi Lampung terbukti paling lambat se-Indonesia.

Usai perayaan Idulfitri 2026, angka inflasi tahunan daerah tercatat hanya 1,16 persen pada bulan Maret.

Rekor terendah secara nasional yang sukses membawa angin segar bagi daya beli masyarakat luas.

Secara bulanan, pergerakan harga juga sangat landai di angka 0,15 persen.

Pencapaian mentereng menempatkan Bumi Ruwa Jurai ke dalam daftar sepuluh besar provinsi dengan kinerja pengendalian pasar paling memuaskan.

Fakta menggembirakan jtu terungkap dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin, 6 April 2026.

Mewakili pemerintah daerah, Staf Ahli Gubernur Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Bani Ispriyanto, menyebut stabilitas pasar bukan terjadi secara instan.

Ada campur tangan aktif dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sejak awal bulan puasa untuk memastikan stok pangan aman.

“Langkah pengendalian bersama TPID berjalan efektif, terutama dalam meredam lonjakan harga selama Ramadan dan Idulfitri,” ujar Bani saat mengikuti rapat virtual dari Ruang Command Center Dinas Kominfotik Lampung.

Kabar baik dari ujung selatan Sumatera rupanya sejalan dengan peta ekonomi nasional yang berangsur pulih.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan angka inflasi se-Indonesia tetap terkendali pada level 3,48 persen secara tahunan.

Amalia merinci, tingginya permintaan masyarakat terhadap makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil terbesar yakni 0,32 persen.

Beruntung, ada penyeimbang dari kebijakan pemerintah di sektor lain.

Diskon tarif angkutan udara, jalan tol, hingga turunnya harga emas perhiasan sukses menekan beban pengeluaran masyarakat.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, turut menyoroti tren perbaikan tersebut.

Merujuk data pusat, tekanan harga berhasil diturunkan dari 0,68 persen pada Februari menjadi 0,41 persen di bulan Maret.

Rentang angka dipastikan aman karena masih berada dalam target sasaran pemerintah pusat, yaitu 2,5±1 persen.

Tito memaklumi siklus hari raya selalu memicu tren belanja besar-besaran, khususnya untuk urusan pangan dan transportasi mudik.

Namun, kekhawatiran masyarakat berhasil ditangani dengan baik berkat operasi pasar dan kelancaran distribusi.

Alhasil, warga tidak perlu pusing menghadapi ancaman lonjakan harga kebutuhan pokok usai libur panjang selesai.