Kirka – Lompatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Way Kanan yang menembus angka Rp 20 triliun pada akhir masa jabatan Bupati Raden Adipati Surya (2015-2025) menyisakan sebuah paradoks.
Di balik tingginya statistik makroekonomi tersebut, kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput dinilai masih jauh tertinggal.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut capaian fantastis itu berisiko hanya menjadi gemerlap di atas kertas.
Mesin perekonomian daerah, kata dia, tidak akan berdampak riil pada kesejahteraan jika pemerintah abai terhadap perawatan rantai distribusi logistik dan pemerataan.
“Akselerasi PDRB hingga Rp 20 triliun di akhir masa kepemimpinan beliau memang patut diapresiasi.
“Tapi, jangan buru-buru bangga. Gemerlap angka statistik itu belum tentu menetes hingga ke denyut nadi ekonomi warga di bawah,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Minggu, 24 Mei 2026.
Anggota Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan ini menilai, Way Kanan masih terjebak pada pola lama, yakni eksploitasi kekayaan alam mentah.
Merujuk pada data, sektor perkebunan dengan komoditas andalan seperti karet dan kopi robusta mendominasi hingga 35,58 persen dari total kue ekonomi daerah.
Masalahnya, wilayah yang sekadar menjadi pemasok bahan baku primer memiliki kerentanan struktural yang tinggi.
Ketika harga pasar global anjlok, fondasi pendapatan petani lokal akan langsung terpukul telak.
“Sesuai teori ketergantungan, daerah penghasil tanpa industri pengolahan akan selalu berada di posisi yang dirugikan.
“Karena itu, hilirisasi produk perkebunan di sana adalah harga mati untuk melindungi nilai tambah yang seharusnya dinikmati petani,” tegas tokoh Eksponen 98 tersebut.
Kerapuhan pondasi ini terkonfirmasi dari lambatnya pertumbuhan ekonomi individu.
Meski PDRB per kapita tercatat naik dari Rp 25,2 juta (2016) menjadi Rp 35,6 juta (2023), realisasinya masih terpuruk di kisaran separuh dari rata-rata pendapatan nasional.
Artinya, kekayaan yang besar itu belum terdistribusi secara merata.
Selain minimnya dorongan terhadap industrialisasi, Mahendra juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang banyak mengalami kerusakan.
Padahal, akses transportasi yang mulus sangat krusial untuk menekan ongkos angkut hasil bumi.
“Ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi bupati berikutnya. Belasan triliun uang berputar, lantas mengapa gerbong masyarakat bawah tertinggal?
“Pemimpin Way Kanan berani memulai industrialisasi komoditas lokal dan memastikan konektivitas infrastrukturnya dibenahi total,” pungkas Mahendra.






