Kirka – Kesejahteraan petani di Provinsi Lampung terpantau mengalami tekanan pada awal tahun ini.
Dikutip pada Rabu, 1 April 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) selama bulan Maret 2026 berada di level 124,92.
Angka ini turun sebesar 1,49 persen jika dibandingkan dengan bulan Februari 2026.
Lesunya daya beli petani ini ibarat pukulan ganda.
Penurunan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) atau cerminan pendapatan mereka, anjlok sebesar 1,08 persen.
Di saat yang bersamaan, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang mencerminkan biaya hidup dan ongkos produksi justru merangkak naik sebesar 0,41 persen.
Hortikultura dan Perkebunan
Jika dibedah per subsektor, penurunan daya beli paling tajam dirasakan oleh petani tanaman hortikultura yang indeksnya anjlok hingga 4,16 persen.
Kondisi itu dipicu oleh harga komoditas cabai merah dan tomat yang merosot tajam.
Melimpahnya stok cabai merah dari panen lokal ditambah banjirnya pasokan dari luar daerah menjadi biang kerok jatuhnya harga di pasaran.
Nasib serupa dialami oleh petani di subsektor tanaman perkebunan rakyat, yang mencatat penurunan NTP sebesar 3,28 persen.
Faktor utamanya adalah jatuhnya harga komoditas kakao atau cokelat biji.
Serangan hama di beberapa wilayah sentra produksi menyebabkan kualitas panen menurun, yang berujung pada anjloknya harga jual.
Peternak dan Petambak
Meski secara umum daya beli lesu, beberapa kelompok petani justru mendulang untung.
Subsektor perikanan budidaya memimpin dengan lonjakan NTP tertinggi yakni 3,75 persen.
Kenaikan didorong oleh melonjaknya harga udang payau seiring dengan tingginya permintaan pasar dan terbatasnya stok menjelang hari raya.
Tren positif jelang hari raya juga dinikmati oleh subsektor peternakan yang NTP-nya tumbuh 1,97 persen.
Meningkatnya permintaan terhadap komoditas sapi potong saat stok menipis berhasil mendongkrak harga jual di tingkat peternak.
Selain itu, subsektor perikanan tangkap juga naik 1,58 persen akibat minimnya tangkapan nelayan karena cuaca buruk yang mengerek harga ikan kembung.
Sementara subsektor tanaman pangan naik tipis 0,31 persen karena naiknya harga gabah dan ketela pohon imbas pasokan yang sedikit jelang masa panen.
Pengeluaran Petani
Naiknya indeks pengeluaran petani (Ib) pada Maret 2026 sangat dipengaruhi oleh membengkaknya biaya kebutuhan sehari-hari.
]BPS mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Lampung naik 0,44 persen.
Penyumbang inflasi perdesaan terbesar ini berasal dari kelompok transportasi yang tarifnya naik hingga 0,98 persen.
Selain beban konsumsi rumah tangga, ongkos bercocok tanam juga makin mahal.
Hal tersebut tecermin dari Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) indikator yang khusus membandingkan pendapatan dengan biaya produksi dan penambahan barang modal yang ikut turun 1,33 persen dari 132,44 menjadi 130,68 pada Maret 2026.






