KIRKA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menekankan bahwa NU harus jadi organisasi koheren yang beradab dan valid dalam menjalankan kerangka besar organisasi.
Hal itu disampaikan Gus Yahya saat membuka Konferensi Wilayah (Konferwil) XI NU Lampung di Universitas Ma’arif Lampung (Umala) Kota Metro, Sabtu (29/7/2023), dan disiarkan secara langsung oleh TVNU.
“NU harus menjadi organisasi yang koheren, harus padu, artinya setiap bagian dari organisasi NU harus bisa bergerak satu sama lain dalam irama yang rapi, tertata, menuju ke arah bersama yang sudah ditentukan sebelumnya,” kata dia.
Gus Yahya menjelaskan koherensi NU sangat penting dalam menjalankan paket strategi yang sudah dibangun oleh PBNU sebagai bagian dari kerangka besar NU kedepannya.
“Ini penting sekali. Karena PBNU ini pada saat yang sama nanti akan diluncurkan program khusus, Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama,” ujar dia.
Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama akan diselenggarakan di desa-desa melibatkan nahdliyin.
“Banyak isi dari kegiatan itu merupakan program pemerintah dan dibiayai oleh anggaran pemerintah. Yang mengelola jajaran NU,” kata dia.
Pengurus Majelis Wilayah Cabang (MWC) dan Ranting NU bertanggung jawab dalam menjalankan dan mengelola anggaran program tersebut.
“Yang menjalankan dan mengelola anggarannya MWC dan Ranting maka pertanggungjawabannya harus jelas. Sekarang ini zamannya KPK begini, repot sampeyan,” ujar Gus Yahya di hadapan ribuan peserta Konferwil XI NU Lampung.
Untuk mewujudkan koherensi NU dibutuhkan tiga macam disiplin.
“Pertama adalah Disiplin Norma. Norma itu adalah nilai-nilai yang menjadi pegangan,” kata Gus Yahya.
Dia mengatakan norma dalam organisasi NU harus dipatuhi, baik norma tertulis dan tidak tertulis.
Norma tertulis adalah berbagai peraturan organisasi yang telah dimiliki NU. Dari AD/ART, Peraturan Perkumpulan, sampai Peraturan PBNU.
“Ketentuan itu didesain untuk diikuti supaya organisasi menjadi satu kesatuan yang utuh, rapi, dan tertib,” ujar dia.
Sementara, norma tidak tertulis adalah adab, sopan santun, dan akhlak.
“Adab, norma yang tidak tertulis tapi harus kita ikuti karena Nahdlatul Ulama adalah organisasinya ulama. Kader NU adalah santri-santrinya ulama. Tidak patut disebut santri kalau tidak pegang adab,” tegas Gus Yahya.
Dia meminta santri untuk memegang teguh adab terhadap sesama, terlebih adab kepada guru maupun pemimpin.
“Ini harus dipegang dalam keadaan apapun. Boleh saja kita berbeda pandangan, pendapat, atau menyampaikan kritik, tapi semuanya harus dilakukan dengan adab,” jelas dia.
Gus Yahya mengatakan norma adab inilah yang membedakan NU sebagai organisasi ulama dengan organisasi yang bukan ulama.
“Kedua adalah Disiplin Agenda yang sudah ditetapkan. Jangan bikin agenda dan program sendiri,” kata Gus Yahya.
Kemudian yang ketiga adalah Disiplin Kepemimpinan.
“Kepemimpinan harus jelas di dalam organisasi. Siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin. Enggak boleh semuanya nyerodol jadi pimpinan,” ujar dia.
NU harus jadi organisasi koheren, satu suara dari pengurus pusat hingga ranting.
“Kalau PBNU-nya bilang A itu berarti PWNU, PCNU, MWCNU, sampai Ranting harus A. Tidak boleh yang lain. Ini namanya koheren,” jelas Gus Yahya.
Validasi Organisasi NU mulai dari tingkat MWC dan Ranting.
Gus Yahya menuturkan Disiplin Norma, Disiplin Agenda, Disiplin Kepemimpinan membutuhkan validasi agar NU menjadi organisasi koheren yang bisa dipertanggungjawabkan.
“Itulah sebabnya, sekarang ini PBNU menjalankan agenda verifikasi dan validasi MWC dan Ranting dalam rangka memperbaiki validitas organisasi,” kata dia.
Gus Yahya mendapatkan laporan bahwa sebagian besar MWC di Lampung masih belum valid.
“Jangan khawatir sesudah (konferwil ) ini akan divalidasi. PBNU akan membantu MWC-MWC ini supaya semuanya memiliki identitas dan postur organisasi,” ujar dia.
Validasi MWC NU untuk Validitas Personalia, Validitas Proses, Validitas Administrasi.
“Semua yang menyangkut personalia, proses-proses, tata cara, harus dicatat dan diadministrasikan dengan baik sesuai ketentuan,” kata dia.
Selain koherensi, disiplin, dan validasi ini, lanjut Gus Yahya, PBNU juga gencar menjalankan program Sistematisasi Pendidikan Kader Nahdlatul Ulama.
Sistematika pengkaderan ini akan mulai diterapkan pada September mendatang.
Konferwil XI NU Lampung yang mengangkat tema “Kemandirian untuk Membangun Peradaban” diharapkan menjadi ajang sosialisasi dari sistem baru pengkaderan tersebut.
Baca Juga: PWNU Lampung 2023-2028 Harus Mandiri dan Tidak Berafiliasi






