Menu
Precision, Actual & Factual

Yang Tak Terungkap Soal Aziz Syamsudin di PN Tipikor Tanjungkarang

  • Bagikan
Collage Junaidi, Aziz S dan Mustafa. Foto Istimewa

KIRKA.CO – Sosok Wakil Ketua DPR RI Aziz Syamsudin kian tenar. Selain karena diduga mengatur pertemuan antara penyidik KPK bernama Stepanus Robin Pattuju yang diduga untuk ‘menggugurkan’ kasus korupsi Wali Kota non aktif M Syahrial, Aziz juga disebut memberikan uang senilai Rp 3 miliar kepada Robin.

Peruntukkan uang itu dimaksudkan Aziz, agar Robin memantau persoalan alokasi DAK Pemkab Lampung Tengah Tahun Anggaran 2017 yang menjadi bagian dari perkara korupsi Mustafa, Bupati Lampung Tengah periode 2016-2021.

Informasi tentang adanya penerimaan uang oleh penyidik KPK tersebut muncul dalam pertimbangan Dewan Pengawas (Dewas) KPK.

Dewas KPK memutus AKP Stepanus Robin Pattuju bersalah karena beberapa hal. Dalam putusan itu, muncul pertimbangan yang menyebutkan tentang pemberian uang dari Aziz ke Robin tadi. Meski begitu, Aziz disebut telah membantah isi pertimbangan Dewas KPK tersebut.

Selain dipecat dari KPK, AKP Stepanus Robin Pattuju sebelumnya juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara korupsi M Syahrial.

Di perkara Mustafa diketahui bahwa Aziz disebut telah menerima uang senilai Rp 2,5 miliar oleh Mustafa. Uang itu dimaksudkan agar Aziz yang waktu itu Ketua Banggar DPR menambahkan nilai alokasi DAK.

Secara hasil, nilai alokasi DAK Pemkab Lampung Tengah memang bertambah. Dari biasanya Rp 20 sampai 25 miliar, akhirnya menjadi Rp 30 miliar. Sejak awal, Aziz disebut berjanji mampu membuat alokasi DAK tersebut menjadi Rp 100 miliar.

Keterangan tentang Aziz ini diungkapkan mantan Kadis Bina Marga Lampung Tengah Taufik Rahman saat ia bersaksi di persidangan korupsi Mustafa di PN Tipikor Tanjungkarang baru-baru ini.

Dari keterangan Taufik Rahman, ada 2 orang yang membantu Aziz Syamsudin: Edi Sujarwo dan Aliza Gunado Ladonny.

Di awal-awal kata Taufik, penghubung Aziz adalah Edi Sujarwo atau yang dikenal Taufik dengan panggilan Jarwo. Setelahnya, Jarwo tidak lagi muncul. Yang muncul kemudian adalah Aliza dan mengaku sebagai orangnya Aziz.

Apa yang diutarakan Taufik ini sebenarnya bukan hal baru. Dulu, sebelum perkara Mustafa ini disidang, Mustafa sudah membeberkan keterlibatan Aziz di perkaranya. Karena dianggap hanya sekadar informasi yang tak diungkap dalam forum sidang, Mustafa dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri.

Laporan itu menyoal pencemaran nama baik. Kapolri Jendral Listiyo Sigit Prabowo tak memberi respons saat ditanya KIRKA.CO baru-baru ini tentang kelanjutan dari laporan tersebut.

Berangkat dari ‘nyanyian’ Mustafa tadi, Aziz Syamsudin dilaporkan ke MKD DPR oleh Koordinator MAKI Boyamin Saiman. Kepada KIRKA.CO, ia menuturkan laporannya tak kunjung menuai hasil.

Kembali ke ulasan tentang bantahan Aziz terkait putusan Dewas KPK kepada AKP Stepanus Robin Pattuju. Alasan pemberian uang Rp 3 miliar lebih itu disebutkan Dewas KPK bahwa Aziz berkeperluan kepada Robin agar Robin melirik keberadaan Aliza Gunado Ladonny di kasus Mustafa.

Dilihat dari hal-hal yang berkenaan dengan Aziz di kasus Mustafa lewat proses persidangan dan proses pemecatan penyidik KPK tadi, sosok Aziz kian ‘terpojok’.

Ditambah lagi keterangan Mustafa ketika ia diperiksa sebagai terdakwa di PN Tipikor Tanjungkarang, 27 Mei 2021 kemarin.

Pengacara Mustafa membuka data tentang sejumlah aliran uang. Terlebih pada urusan yang menyoal Aziz Syamsudin. Data itu dituangkan di dalam surat permohonan Justice Collaborator (JC) Mustafa.

Dalam tabel itu, Mustafa menyatakan bahwa uang dari hasil pengumpulan ijon proyek yang dipakai untuk mengurus DAK ke Aziz itu hanya Rp 2 miliar lebih. Tak sampai Rp 2,5 miliar seperti penjelasan Taufik Rahman.

Menurut catatan Mustafa, ada sekira Rp 400 juta yang dipakai Taufik untuk keperluannya sendiri ketika diperintahnya membuat proposal pengajuan alokasi DAK ke Aziz Syamsudin.

Yang perlu diketahui publik, Mustafa turut mencantumkan nama Aliza, Edi Sujarwo dan Aziz di dalam tabel tadi. Nama Edi Sujarwo pernah tercatat diperiksa penyidik KPK di saat kasus Mustafa masih berada pada tahap penyidikan.

Meski telah diperiksa sebagai saksi, tak banyak informasi tentang Edi Sujarwo atau Jarwo di dalam forum persidangan. Hal itu diakui oleh JPU KPK Taufiq Ibnugroho kepada KIRKA.CO. Taufiq JPU KPK yang ditugasi membawa berkas perkara Mustafa ke pengadilan.

KIRKA.CO sebelumnya telah mempublikasikan informasi lain tentang profil Edi Sujarwo. Secara singkat, Jarwo adalah orang dekat Aziz Syamsudin yang menjadi semacam bagian dari ‘tim kampanye’ Aziz Syamsudin di Lampung. Beberapa sumber KIRKA.CO menyebut, Jarwo adalah semacam Tenaga Ahli-nya Aziz.

Saat Mustafa diperiksa sebagai terdakwa pun, Mustafa tak banyak mengulas tentang keterlibatan Aziz dkk. Bisa dikatakan minim.

Kendati demikian, informasi yang dihimpun KIRKA.CO menyebut, dialog antara Aziz dan Mustafa diawali dari tawaran mantan Ketua DPRD Lampung Tengah Achmad Junaidi Sunardi.

Junaidi disebut menawarkan bantuan tersebut pada Mei 2017. Singkatnya, ketiganya sepakat bertemu di Jakarta. Tepatnya di daerah Pondok Indah.

Mustafa dan Junaidi pergi bersama dan bertamu ke tempat yang ditentukan. Dari pertemuan itu, Aziz mendengarkan ‘curhatan’ Mustafa dan mengatakan, ”Nanti dibantu. Bikin aja proposalnya”.

Aziz kemudian menyatakan bahwa akan ada biaya atas permohonan Mustafa tersebut. Mendengar itu, Mustafa sepakat.

Usai pertemuan itu berjalan, Mustafa memberikan perintah kepada Taufik Rahman. Selanjutnya muncul lah sosok Edi Sujarwo, yang tak lain adalah orang dekat Aziz Syamsudin juga Ketua Relawan Aziz Syamsudin (RAS) Lampung Tengah.

Terhadap informasi yang KIRKA.CO terakan ini, pengacara Mustafa, M Yunus memberikan tanggapan dan komentarnya.

“Di dokumen JC dan di hadapan penyidik, Mustafa sudah menjelaskan aliran uang ke Aziz Syamsuddin. Kalau saya tidak salah ingat, awalnya yang membawa Mustafa ke azis adalah Junaidi. Lalu eksekutornya adalah Taufik via para stafnya,” ujar Yunus saat dikonfirmasi KIRKA.CO, Rabu, 2 Juni 2021.

Yunus sekadar mengaminkan bahwa keberadaan Achmad Junaidi Sunardi di dalam pengurusan DAK tersebut tak muncul dan terungkap di dalam persidangan pada PN Tipikor Tanjungkarang.

KIRKA.CO telah meminta tanggapan Plt Juru Bicara Bidang Penindakan KPK Ali Fikri terkait materi penyidikan Mustafa terlebih pada soal awal mula dialog antara Mustafa dan Aziz yang diinisiasi Achmad Junaidi Sunardi. Sampai kabar ini dipublikasikan KIRKA.CO, Ali Fikri belum memberikan respons.

  • Bagikan