Menu
Precision, Actual & Factual

Mereka yang Sanggup “Berbohong” di Hadapan Hakim Tipikor Efiyanto Dkk

  • Bagikan
Efiyanto Ketua Majelis Hakim Tipikor dalam sidang TPK Mustafa. Sumber RR

KIRKA.COBandar Lampung – KPK sejak awal telah melakukan pemeriksaan kepada sejumlah saksi ketika mantan Mustafa Bupati Lampung Tengah ditetapkan sebagai tersangka atas sangkaan suap dan gratifikasi.

Dalam perjalanan penanganan kasus yang memakan waktu tidak cepat, KPK mencoba mengurai aliran uang hasil ijon proyek Dinas Bina Marga ke Partai Kebangkitan Bangsa [PKB].

Akhirnya perkara itu disidangkan di PN Tipikor Tanjungkarang. Sejumlah saksi pun sudah mengurai bahwa memang benar ada transaksi senilai Rp 18 M sebagai biaya membeli perahu politik untuk dukungan Mustafa maju pada kontestasi Pilgub Lampung 2018.

Adalah Paryono, Rizani, Darius misalnya sudah menerangkan bahwa uang Rp 18 M itu dikumpulkan pada akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018.

Setelahnya Midi Iswanto diperiksa sebagai saksi. Midi adalah sosok orang yang menerima uang Rp 18 M tersebut, bersama dengan Khaidir Bujung. Keduanya diyakini Chusnunia Chalim mantan Bupati Lampung Timur adalah utusannya untuk berkomunikasi dengan Mustafa perihal penerimaan dana tadi.

Selain Midi dan Khaidir. Di hari yang sama turut pula Chusnunia Chalim dan mantan Ketua DPW PKB Lampung Musa Zainudin diperiksa sebagai saksi di PN Tipikor Tanjungkarang, Kamis, 4 Maret 2021.

Menurut Midi dan Khaidir berikut Musa. Uang Rp 18 M tadi memang harus dipulangkan kepada Mustafa. Karena pada akhirnya DPP PKB lewat Ketua Umum Muhaimin Iskandar tidak memberikan dukungan kepada Mustafa.

Mustafa mengklaim memiliki niat untuk bekerja sama dengan KPK dan kerap meminta agar uang tadi dikembalikan.

Dalam proses sidang tersebut, hakim telah berulang kali berpendapat bahwa kesaksian para saksi pada persidangan itu didominasi kebohongan.

Bila dilihat lebih cermat. Midi Iswanto mengaku baru memulangkan Rp 14 M kepada Mustafa. Sisanya menurut dia telah dipergunakan untuk berbagai hal. Salah satunya menurut dia, dipergunakan oleh Chusnunia Chalim. Totalnya Rp 1.150.000.000.

Dan Midi telah memberikan buku yang berisi catatan tentang penggunaan uang dari Mustafa tadi kepada KPK.

Midi mengklaim bahwa Rp 150 juta diberikannya kepada Chusnunia Chalim. Saat Midi membeberkan hal itu, Chusnunia yang berada persis di belakang kursi Midi menggelengkan kepala. Sinyal dari Chusnunia bahwa keterangan Midi tidak benar.

Setelahnya Jaksa dari KPK mengonfirmasi perihal uang Rp 150 juta kepada Chusnunia. Ia mengakui penerimaan itu. Dalam BAP miliknya, Nunik sapaan akrabnya mengaku bahwa uang Rp 150 juta dipinjamnya dari Midi dan diterimanya pada tahun 2016.

Musa turut berperan dalam hal penggunaan uang yang bersumber dari Mustafa. Ia berpesan kepada Midi dan Khaidir, agar memohon kepada Nunik untuk turut bertanggungjawab dan mau memulangkan uang milik Mustafa.

Mustafa juga berkali-kali memohon agar Nunik memulangkan uang miliknya. Namun Nunik menolak untuk memulangkan uang yang sama sekali dirasanya tidak ia terima.

Uang dari Mustafa mula-mula mengalir senilai Rp 5 M. Sumbernya dari Mofaje Caropeboka mantan napi korupsi. Uang tersebut diantar oleh Paryono bersama Rizani ke Midi dan Khaidir pada akhir tahun 2017. Setelahnya Rp 14 M sisanya diberikan pada awal tahun 2018.

Pertanyaannya. Mengapa Midi mampu mencatat dan mengatakan bahwa Nunik telah turut menggunakan uang milik Mustafa? Padahal Nunik mengakui penerimaan uang Rp 150 juta dari Midi tersebut berlangsung pada tahun 2016.

Mereka yang mampu berbohong di pengadilan yang dipimpin wakil Tuhan di dunia bernama Efiyanto dan kawan-kawan. Tak keliru bila hakim berkeyakinan para saksi kemarin berbohong.

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan