Kiamat Geopolitik: Menghitung Luka Dunia Akibat Perang AS-Israel vs Iran

Kiamat Geopolitik: Menghitung Luka Dunia Akibat Perang AS-Israel vs Iran
Infografis dampak global krisis: retaliasi Iran, penutupan Selat Hormuz, lonjakan harga minyak dan pangan, serta keruntuhan pasar saham. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang meletus sejak 28 Februari 2026 terus bereskalasi.

Serangan udara masif ke fasilitas nuklir Natanz di Teheran dan balasan rudal ke Tel Aviv dinilai bukan lagi sekadar operasi militer biasa, melainkan kiamat geopolitik yang meruntuhkan sendi kehidupan global.

Eksponen 98 sekaligus Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa luka yang ditinggalkan dari perang ini jauh lebih dalam dari sekadar kehancuran infrastruktur.

Dampak sistemik dari perang ini mulai mencekik negara-negara yang jauh dari medan konflik, termasuk negara berkembang.

“Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan arteri bagi sepertiga pasokan minyak dunia, telah membuat harga energi melonjak di luar batas wajar.

“Ini memicu efek domino berupa inflasi pangan global.

“Integrasi risiko global ini membuat satu ledakan di Teheran langsung berdampak pada kenaikan harga beras di Jakarta,” ujar Mahendra Utama, Jumat, 27 Maret 2026.

Disrupsi

Lebih lanjut, Mahendra menyoroti bahwa perang ini menciptakan disrupsi rantai pasok global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kondisi diperparah oleh teror psikologis yang merambat ke masyarakat sipil di berbagai belahan dunia.

Narasi perang akhir zaman yang digaungkan sejumlah faksi dinilai memperparah polarisasi.

Kebencian berbasis identitas kini memenuhi ruang-ruang media sosial, menciptakan permusuhan baru yang mengancam kohesi sosial global.

Audit Kehancuran

Berdasarkan analisis data hingga Maret 2026, Mahendra memaparkan estimasi kerugian masif yang dialami pihak-pihak yang bertikai, baik secara material maupun imaterial:

Kerugian Material:

Aset militer AS yang hancur akibat serangan balasan rudal Sejjil Iran diestimasi mencapai USD 1,9 miliar (sekitar Rp30 triliun).

Di sisi lain, Iran menderita kerusakan infrastruktur sipil bernilai puluhan miliar dolar, termasuk hancurnya fasilitas energi South Pars dan RS Gandhi.

Di sektor finansial, triliunan dolar nilai pasar saham global menguap akibat aksi jual masif.

Kerugian Imaterial:

Selain jatuhnya korban jiwa yang tak ternilai harganya, dunia mengalami krisis kepercayaan terhadap hukum internasional.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dinilai tak berdaya menahan eskalasi, yang menurut Mahendra, menandai runtuhnya tatanan dunia pasca-Perang Dunia II.

“Trauma kolektif jutaan anak di Timur Tengah adalah bom waktu bagi stabilitas masa depan,” tegasnya.

Jebakan dan Kebuntuan Gencatan Senjata

Secara akademis, Mahendra menjelaskan bahwa konflik AS-Israel versus Iran ini merupakan manifestasi dari Thucydides Trap (Perangkap Thucydides).

Kondisi itu terjadi ketika kekuatan dominan (AS) merasa terancam oleh kebangkitan kekuatan regional (Iran), sehingga benturan terbuka menjadi sulit dihindari.

Lantas, kapan badai ini akan berakhir? Mahendra menyebut pertanyaan tersebut sebagai teka-teki berdarah.

Pasalnya, Washington tampaknya terjebak dalam retorika penghancuran total kapasitas nuklir Iran, sementara Teheran bersikeras akan terus membalas agresi selama serangan tidak dihentikan.

Mahendra menilai, tanpa adanya intervensi gencatan senjata dari kekuatan netral seperti China atau konsorsium negara non-blok, perang ini akan berubah menjadi perang atrisi jangka panjang.

“Perang tidak menentukan siapa yang benar, melainkan siapa yang tersisa.

“Menghancurkan infrastruktur energi dan rumah sakit atas nama keamanan adalah kontradiksi moral yang menjijikkan,” pungkas Mahendra.