Ichika Bachika: Filsafat Lokal untuk Lampung Berkemajuan

Ichika Bachika: Filsafat Lokal untuk Lampung Berkemajuan
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama Ingatkan Gubernur Mirza: Pembangunan Lampung Harus Berakar Ichika Bachika. Foto: Arsip Adpim/Kirka/I

Kirka – Upaya mewujudkan visi “Lampung Berkemajuan” di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dinilai memerlukan fondasi filosofis yang kuat, bukan sekadar bertumpu pada megaproyek dan angka pertumbuhan ekonomi.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan pentingnya mengadopsi filosofi Ichika Bachika sebagai kompas etis arah kebijakan Pemerintah Provinsi Lampung.

Menurut Mahendra, filosofi Ichika Bachika yang mengajarkan bahwa keberagaman adalah satu kesatuan utuh, sangat selaras dengan falsafah hidup masyarakat Lampung.

“Nilai tersebut sangat sejalan dengan pi’il pesenggiri, sakai sambayan, dan bejalan diway.

“Sayangnya, fondasi hidup masyarakat Lampung ini sekarang mulai tergerus oleh ambisi pembangunan yang seragam,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Sabtu, 28 Maret 2026.

Eksponen 98 ini mengingatkan Gubernur Mirza, sapaan akrab Rahmat Mirzani Djausal, bahwa kemajuan sebuah daerah tidak bisa diukur dari fisik semata.

Pembangunan, tegasnya, harus membumi dan menjadikan desa sebagai titik awal.

“Desa harus diletakkan sebagai subjek, bukan sekadar objek kebijakan dari pusat.

“Ironisnya, struktur birokrasi desa kita yang merupakan warisan kolonial masih lestari sampai sekarang. Akibatnya, desa kehilangan daya kreatifnya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Mahendra mendorong Iyai Mirza untuk berani mengambil langkah strategis dengan mengembalikan otonomi budaya desa.

Langkah ini dinilai mutlak diperlukan agar selaras dengan visi membangun dari desa dan penerapan konsep Ekonomi Pancasila yang berpihak nyata pada rakyat kecil.

Lebih lanjut, ia menyoroti implementasi 18 program prioritas yang menjadi janji kampanye gubernur.

Ia mengingatkan agar program-program tersebut tidak terjebak pada pelaksanaan teknis birokratis semata.

Pemberdayaan UMKM, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, serta sinergi pemerintah dengan organisasi masyarakat keagamaan, harus dijiwai oleh semangat kebersamaan.

Kepastian hukum, pelayanan birokrasi yang prima, dan harmoni sosial adalah satu kesatuan yang tidak bisa dijalankan secara parsial.

“Jika 18 janji kampanye itu hanya dijalankan secara teknis, Lampung akan kehilangan ruhnya.

“Sebaliknya, jika Ichika Bachika ini dipegang sebagai kompas etis, Lampung tidak hanya maju secara material, tetapi juga bermartabat secara kultural dan adil secara sosial.

“Inilah makna sejati dari Lampung Berkemajuan, maju dalam kebersamaan, maju dalam keberagaman. Gubernur Mirza memiliki momentum yang tepat untuk mewujudkan ini, jangan disia-siakan,” pungkasnya.