KIRKA – Menyikapi kebijakan harga BBM 2022 naik nelayan Lempasing berharap pasokan tetap lancar.
“BBM naik ya kemungkinan besar berat sih nelayan. Tapi, kembali lagi kepada pemerintah gimana baiknya, yang penting lancar,” kata salah satu nelayan, Dowo (40), saat ditemui di SPBU Pertamina TPI Lempasing, Telukbetung Timur, Bandar Lampung, pada Rabu, 31 Agustus 2022.
Baca Juga: Bandar Lampung Kota Kreatif di Indonesia dengan Tiga Subsektor Unggulan
Dowo, nelayan Lempasing yang mengoperasikan kapal kurang dari 5 GT, mengaku sejauh ini pasokan BBM solar tidak terkendala dengan wacana kenaikan harga bahan bakar minyak.
Setiap nelayan Lempasing, tutur dia, yang akan mengisi BBM solar di SPBU dijatah maksimal 60 liter untuk kapal di bawah 5 GT dengan sejumlah persyaratan.
“Yang penting persyaratannya lengkap lah begitu. Persyaratannya surat izin usaha perikanan (SIUP). Kalau kapal kecil susah, gak ada SIUP sih,” ujar dia.
Kapal ikan Dowo berukuran 2 GT dengan daya jelajah sebatas Pulau Tangkil dan Pulau Tegal. Kapalnya dijatah 40 -50 liter untuk sekali melaut.
“Awal-awal naik terasa bagi nelayan ini karena semakin meningkat pembiayaan operasionalnya. Tapi, dengan sendirinya ya, kalau gak bisa dibeli susah juga melaut,” kata dia.
Dowo menegaskan biaya untuk melaut mustahil diefisienkan karena hasil tangkapan terkadang tidak sebanding dengan biaya operasional.
Menurut dia, yang bisa dilakukan oleh nelayan Lempasing adalah mengirit biaya hidup sehari-hari.
“Paling mengirit sebagiannya. Apa yang bisa dikurangi, misal kayak rokok, biasa beli yang mahal kembali ke yang murah,” jelas dia.
Pasokan minyak solar tetap lancar juga diakui oleh pengelola SPBU AKR TPI Lempasing meski ada wacana harga BBM 2022 naik.
“Alhamdulilah pasokan lancar-lancar aja,” kata Defril (62) warga Menggala, Tulang Bawang, yang mengelola SPBU AKR.
Dia menjelaskan sejak berdiri pada 2009 dan resmi beroperasi Januari 2010, SPBU AKR TPI Lempasing hanya melayani kapal nelayan yang menjadi anggota AKR dan sudah memenuhi persyaratan.
“Kapal nelayan itu sudah terdaftar, dan masing-masing kapal punya nomor identitas. Dari 300 nelayan Lempasing, ada lebih kurang setengahnya yang menjadi member AKR,” ujar dia.
SPBU-nya menerima pasokan BBM solar dari KSOP Panjang sebanyak 60-70 kilo liter (kL) per bulan dengan kapasitas tangki AKR 13 kL.
“Pada awal berdiri kita mendapatkan kuota 300 kL per bulan. Sekarang hanya 60-70 KL per bulan. Sudah lebih dari dua tahun,” tutur dia.
Per tiga hari, lanjut Defril, KSOP mengirimkan pasokan BBM solar sebanyak 10 kL. KSOP akan mengirimkan BBM solar setelah ditebus lebih dahulu oleh pihaknya.
“Kebutuhan solar nelayan disesuaikan dengan ukuran kapal ikan, dan lama berlayar. Ada ketentuannya. Minimal 60 liter, dan maksimal 300 liter untuk yang berlayar 4-5 hari,” jelas dia.
Kenaikan harga BBM 2022, kata dia, tidak berdampak pada usaha yang dikelolanya. Defril justru khawatir akan nasib para nelayan Lempasing.
“Apakah mereka bisa membeli solar dengan harga yang dinaikkan ini? Harga sekarang aja nelayan sudah pusing karena hasil melautnya terkadang tidak mencukupi menutupi belanja mereka,” pungkas dia.
Penyesuaian harga BBM subsidi, pertalite dan solar, dikabarkan dilakukan di awal bulan September 2022. Per tanggal 31 Agustus 2022, harga BBM solar di Lampung Rp18.150.
Meski nantinya harga BBM 2022 naik nelayan Lempasing berharap pasokan tetap lancar.






