Green Sport Arena Mendidih, 720 Karateka Lampung Saling Jegal Demi Tiket Kejurnas

Green Sport Arena Mendidih, 720 Karateka Lampung Saling Jegal Demi Tiket Kejurnas
Grafis Kejuaraan Shokaido II Lampung 2026, di mana 720 karateka bertarung memperebutkan tiket ke Kejurnas. Foto: Arsip Forki Lampung

Kirka – Tensi tinggi menyelimuti Green Sport Arena, Komplek Gubernuran, Bandarlampung, Sabtu, 7 Februari 2026.

Sebanyak 720 atlet dari berbagai penjuru Lampung turun gelanggang dalam Kejuaraan Karate Shokaido II Tahun 2026.

Bukan sekadar mengejar podium, ratusan karateka ini bertarung habis-habisan demi mengamankan satu tempat di skuad inti tuan rumah pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) mendatang.

Dibuka oleh Mico Periyando yang mewakili Ketua Umum Shokaido Lampung Ary Meizary Alfian, kejuaraan diposisikan sebagai kawah candradimuka.

Mico menegaskan, turnamen memiliki nilai strategis ganda, evaluasi pembinaan tahunan sekaligus saringan terakhir menuju panggung nasional.

“Bukan sekadar turnamen rutin. Agenda ini menjadi indikator utama seleksi tim Shokaido Lampung.

“April nanti kita tuan rumah Kejurnas di PKOR Way Halim, jadi tidak ada kompromi, hanya atlet terbaik yang akan mewakili daerah,” tegas Mico yang juga menjabat Ketua 1 Pengprov FORKI Lampung.

Di hadapan ratusan atlet, Mico turut menyisipkan pesan moral.

Ia mengingatkan bahwa teknis bela diri tak boleh lepas dari filosofi Bushido.

“Karakter, kedisiplinan, dan kerendahan hati adalah fondasi. Kemenangan fisik tanpa penguasaan diri tidak akan melahirkan karateka sejati,” imbuhnya.

Sementara, laporan dari meja panitia menunjukkan grafik partisipasi yang menggembirakan.

Ketua Pelaksana, Iskandar, merinci bahwa 720 karateka tersebut merupakan delegasi dari sembilan Pengurus Cabang (Pengcab) kabupaten/kota se-Lampung.

Tingginya animo peserta ini, menurut Iskandar, menjadi modal psikologis yang kuat.

“Melihat jumlah peserta yang membludak, kami optimistis.

“Shokaido Lampung punya amunisi cukup untuk menargetkan sukses ganda, sukses penyelenggaraan Kejurnas dan sukses prestasi nasional,” paparnya.

Respons positif juga datang dari otoritas tertinggi karate di daerah ini.

Ketua Harian Forki Lampung, Ariswandi, yang hadir mewakili Ketua Umum Taren Sembiring, memberikan atensi khusus terhadap konsistensi Shokaido dalam menggelar kompetisi.

Ariswandi menekankan bahwa parameter keberhasilan sebuah perguruan terletak pada frekuensi kompetisi, bukan sekadar rutinitas latihan di dojo.

“Kami di Forki sangat mengapresiasi langkah Shokaido. Harus diingat, latihan sekeras apa pun tanpa ada kejuaraan sebagai ajang uji coba, hasilnya nol besar.

“Event kompetitif seperti inilah yang menjadi tolok ukur pembinaan yang sehat,” lugas Ariswandi.

Menutup keterangannya, Ariswandi memastikan Forki Lampung tidak akan tutup mata.

Pihaknya berkomitmen memberikan dukungan konkret mulai dari penyediaan medali hingga pembiayaan perangkat pertandingan seperti wasit dan juri bagi perguruan yang aktif menghidupkan iklim kompetisi di Bumi Ruwa Jurai.