Gak Melulu Barang Mentah, Produk Olahan Pabrik Kini Jadi Jagoan Ekspor Lampung

Gak Melulu Barang Mentah, Produk Olahan Pabrik Kini Jadi Jagoan Ekspor Lampung
Ilustrasi Ekspor Lampung: Suasana aktivitas bongkar muat komoditas hasil industri pengolahan di pelabuhan. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Peta kekuatan ekspor Provinsi Lampung mulai beralih rupa.

Sektor industri pengolahan kini mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung utama, menggeser dominasi komoditas mentah yang selama ini menjadi andalan.

Sepanjang Januari hingga Februari 2026, produk olahan pabrik sukses menyumbang porsi raksasa sebesar 74,78 persen terhadap total nilai ekspor.

Mengacu pada rilis Berita Resmi Statistik teranyar dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung, Rabu, 1 April 2026, sektor industri pengolahan mencatatkan nilai ekspor fantastis mencapai US$742,15 juta pada dua bulan pertama tahun ini.

Angka tersebut melonjak 16,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tren positif menjadi semacam penyangga tangguh bagi neraca perdagangan daerah di tengah lesunya pasokan dari sektor hulu.

Betapa tidak, sektor pertanian yang biasanya dielu-elukan justru sedang terpuruk dalam.

Nilai ekspor dari hasil tani anjlok tajam hingga 36,34 persen, atau hanya mampu meraup US$146,33 juta.

Setali tiga uang, sektor pertambangan dan lainnya juga ikut merosot 19,75 persen ke level US$103,97 juta.

Kondisi itu diperparah oleh rontoknya ekspor komoditas primadona seperti kopi, teh, dan rempah-rempah yang anjlok tajam hingga 37,44 persen.

Kendati sektor hulu sedang berdarah-darah, secara kumulatif total ekspor Provinsi Lampung pada Januari-Februari 2026 masih mampu bertahan kuat di angka US$992,45 juta.

Nilai tersebut hanya terkoreksi sangat tipis, yakni 0,3 persen dari raihan periode yang sama di tahun 2025 yang sempat menembus US$995,48 juta.

Daya tahan murni ditopang oleh agresivitas penjualan produk hilirisasi.

Di bursa komoditas, lemak dan minyak hewan/nabati keluar sebagai jawara absolut, mendominasi 48,64 persen kue ekspor nonmigas Lampung.

Lebih mengejutkan lagi, pamor bahan kimia organik melesat tak terbendung dengan lonjakan fantastis sebesar 159,02 persen.

Produk olahan dari sayuran, buah, dan kacang pun tak mau ketinggalan momentum, tumbuh subur mencatatkan kenaikan 38,28 persen.

Dari sisi negara pelanggan, Tiongkok rupanya masih menjadi pasar tradisional yang paling masif menyerap produk-produk asal Bumi Ruwa Jurai, dengan nilai transaksi menembus US$162,64 juta.

Di posisi selanjutnya, Amerika Serikat dan Pakistan membuntuti ketat dengan serapan masing-masing sebesar US$126,01 juta dan US$114,98 juta.