Riview Buku Momoye: Mereka Memanggilku

Kirka.co
Momoye : Mereka Memanggilku, karya Eka Hindra dan Khoici Kimura (2007). Sumber https://id.carousell.com

KIRKA – Pernah dengar istilah Jugun Ianfu alias budak seks pada zaman penjajahan Jepang? Seorang wanita bernama Mardiyem yang awalnya takut bercerita mengenai kisah masa lalunya sebagai Jugun Ianfu, akhirnya mengungkap kekejaman Jepang dan menuntut keadilan dalam buku “Momoye”

Sebuah buku berjudul “Momoye : Mereka Memanggilku” telah membuka pandangan banyak orang tentang kebenaran mengenai Jugun Ianfu. Mereka yang semula menganggap Jugun Ianfu hanya perempuan yang ‘sengaja’ menjual martabatnya, telah menemukan kebenaran lewat Momoye.

Momoye adalah nama Jepang yang didapat wanita bernama Mardiyem ketika ia tiba di Telawang, Kalimantan Selatan. Ia ditipu bahwa kepergiannya ke Telawang adalah untuk menjadi pemain sandiwara. Namun kenyataannya, Mardiyem yang masih 13 tahun justru berakhir menjadi budak seks.

Ia ditempatkan di Asrama Telawang—kamp untuk para Jugun Ianfu—yang dijalankan oleh Jepang. Fakta mengejutkan dalam kisah Mardiyem dibuku ini adalah orang-orang Indonesia yang ternyata juga terlibat dalam perekrutan Jugun Ianfu dan pengoperasian asrama di Telawang.

Mardiyem mendiami Asrama Telawang dari tahun 1942 sampai 1945. Di sana, Ia bersama puluhan perempuan lainnya dipaksa memenuhi kebutuhan seksual tentara dan aparat sipil Jepang.

Selama menjadi Jugun Ianfu Mardiyem dan teman-temannya harus mengalami banyak hal buruk. Dari mereka, banyak yang terkena penyakit kelamin, sementara yang hamil dipaksa menggugurkan kandungannya.

Mardiyem sendiri pernah hamil ketika usianya 15 tahun, namun bayinya digugurkan secara paksa. Setelah pulih dari menggugurkan kandungan ataupun penyakit kelamin, mereka kembali dipaksa untuk bekerja.

Mardiyem tidak bisa meminta bantuan dari warga di Telawang, karena orang-orang di sana takut dengan tentara Jepang. Juga, banyak wanita di sana yang menganggap Mardiyem dan rekannya memang sengaja menjadi Jugun Ianfu.

Barulah, 1945 Mardiyem dan rekan-rekannya melepaskan diri dari penderitaan dan berharap bisa menjalani kehidupan normal lagi. Namun hidup normal hanya sebuah angan-angan. Meski telah meninggalkan Telawang, trauma fisik dan psikis masih mereka alami.

Banyak penyintas yang mengalami kerusakan rahim serta trauma yang terus membayangi hidup mereka. Ditambah caci-maki dari orang-orang yang tau mengenai masa lalu mereka. Para mantan Jugun Ianfu harus menerima semua itu hingga hari tua.

Sampai berakhirnya Perang Dunia II, sejarah Jugun Ianfu hilang begitu saja. Jepang dianggap sengaja menutup mata dan tidak ingin bertanggung jawab atas kekejaman mereka pada para penyintas Jugun Ianfu yang harus hidup dalam penderitaan.

Barulah pada tahun 1991, kenyataan mengenai Jugun Ianfu diungkap oleh wanita asal Korea Selatan bernama Kim Hak Soon yang mengaku menjadi korban perbudakan seks Jepang. Lewat pengakuannya ini, terungkap ada sekitar 200.000 korban Jugun Ianfu.

200.000 korban ini berasal dari berbagai negara, mulai dari Indonesia, Filipina, Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Timor Leste, Cina, hingga Belanda. Beberapa korban dari masing-masing negara akhirnya dikumpulkan untuk memberi kesaksian mereka.

Mardiyem mengetahui kabar mengenai pengungkapan kasus Jugun Ianfu ini lewat surat kabar dan mengadukan kisahnya ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Mardiyem juga mencari penyintas Jugun Ianfu lain, namun banyak dari mereka yang enggan bersaksi karena merasa malu dan takut.

Pada tahun 1995 Mardiyem bersama perwakilan LBH Yogyakarta pergi ke Jepang dan mengungkap kisahnya di Forum Internasional.

Mardiyem ikut memberikan kesaksian dan ikut menuntut permohonan maaf serta hak-hak nya yang telah diabaikan oleh pemerintah Jepang.

Jepang juga dituntun untuk memasukkan kenyataan mengenai Jugun Ianfu dalam pelajaran sejarah Jepang.

Lewat tuntutan-tuntutan itu, Kaisar Hirohito bersama pejabat lainnya dari Jepang dinyatakan bersalah karena telah mengesahkan kebijakan mengenai Jugun Ianfu.

Pada tahun 1997 Jepang akhinya menyatakan permohonan maaf secara langsung. Jepang juga membayarkan kompensasi kepada Indonesia, meskipun banyak yang menganggap bahwa kompensasi Jepang tidak akan menghapus trauma para penyintas Jugun Ianfu.

Mardiyem telah wafat pada tahun 2007. Keberanian Mardiyem dalam mengungkap masa lalunya yang kelam dan berbicara tentang sejarah Jugun Ianfu telah menjadi inspirasi bagi para penyintas kekerasan seksual, terutama korban perbudakan seks Jepang pada Perang Dunia II.

“Kita berhutang kepada rahim-rahim mereka yang telah berani dan tabah menjalani kehidupan yang teramat perih.”

-Eka Hindra, dalam Momoye : Mereka Memanggilku.

Konten oleh @snkayt

Sumber :
1. Momoye : Mereka Memanggilku, karya Eka Hindra dan Khoici Kimura (2007).
2. https://t.co/jetoraLemF

A Thread by @logos_id
https://t.co/vR4ooNm5NE