Kirka – Tingginya angka kunjungan wisatawan ke Kabupaten Lampung Selatan sepanjang 2025 yang menembus 1.647.716 orang ternyata belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Rata-rata lama tinggal pelancong yang hanya bertahan tiga jam membuat sumbangsih sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah baru menyentuh angka 1,27 persen.
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengungkapkan bahwa derasnya arus kedatangan pengunjung tidak otomatis menggerakkan perekonomian warga apabila suatu wilayah hanya menjadi jalur lintasan.
Menurutnya, penyelenggaraan agenda komunitas berskala nasional seperti Jambore Nasional (Jamnas) XIV Perhimpunan Penggemar American Jeep Indonesia (PPAJI) 2026 harus dirancang sebagai pintu masuk menuju ekosistem wisata terpadu, bukan sekadar perhelatan sesaat.
“Kunjungan lebih dari 1,6 juta orang sepanjang 2025 adalah modal besar, namun durasi singgah yang rata-rata hanya tiga jam menunjukkan pelancong belum banyak membelanjakan uangnya di Lampung Selatan.
“Agenda komunitas seperti Jamnas XIV PPAJI 2026 jangan berhenti pada seremoni kumpul anggota semata, melainkan harus dikemas menjadi penggerak ekonomi warga,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Minggu, 18 Oktober 2026.
Persoalan singkatnya waktu kunjung pelancong sebelumnya turut menjadi perhatian serius jajaran Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, sempat menjuluki wilayahnya sebagai hidden paradise berkat letak geografis yang strategis di pintu gerbang Pulau Sumatera.
Kendati demikian, Radityo mengakui masih ada pekerjaan rumah besar dalam pengelolaan potensi wisata.
“Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola dan mengintegrasikan potensi itu agar memberi nilai tambah ekonomi,” tutur Radityo.
Senada, Kepala Dinas Pariwisata Lampung Selatan, I Nyoman Setiawan, menekankan pentingnya pergeseran orientasi pembangunan kepariwisataan daerah agar lebih berdampak pada pendapatan masyarakat.
“Ke depan kita tidak hanya bicara jumlah wisatawan, tetapi bagaimana mereka tinggal lebih lama dan membelanjakan pengeluarannya di daerah,” tegas Nyoman.
Paket Wisata Terpadu
Guna memperpanjang durasi singgah pengunjung, Mahendra Utama menyodorkan konsep pengemasan kegiatan komunitas yang terhubung langsung dengan paket perjalanan wisata selama dua hingga tiga hari.
Melalui skema paket terpadu, penyelenggara acara bersama pelaku usaha lokal dapat mengarahkan tamu untuk menjelajahi destinasi pesisir, mencicipi ragam kuliner khas, hingga bermalam di penginapan berbasis masyarakat.
Mahendra mencontohkan besarnya potensi perputaran uang dari kehadiran peserta Jamnas XIV PPAJI 2026 yang membawa sedikitnya 280 unit kendaraan dari luar daerah.
Ratusan peserta beserta rombongan keluarga dapat diarahkan untuk menginap beberapa malam, menyeberang guna menikmati keindahan Pulau Sebesi, sekaligus membeli produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) buatan warga setempat.
“Penerapan teori Community Based Tourism (CBT) 2025 menempatkan partisipasi aktif warga, kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta keberlanjutan program sebagai kunci utama penciptaan dampak jangka panjang.
“Selain itu, strategi sequential events atau rangkaian acara berkesinambungan terbukti mampu mengubah satu perhelatan tunggal menjadi kampanye pariwisata berkelanjutan yang memperpanjang manfaat ekonomi,” jelas Mahendra.
Agar perputaran uang tidak langsung terputus seusai acara ditutup, Mahendra mendorong penguatan kolaborasi pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah daerah, komunitas, kalangan akademisi, pelaku usaha, serta insan media.
Sinergi kelima elemen sangat diperlukan guna menyusun kalender kegiatan tahunan yang terjadwal, menyiapkan homestay warga yang memenuhi standar pelayanan, serta menggencarkan promosi digital secara konsisten.
Langkah penataan ekosistem secara menyeluruh diyakini bakal memperkokoh posisi Lampung Selatan sebagai destinasi unggulan wisata olahraga (sport tourism) dan petualangan di Provinsi Lampung.
“Apabila seluruh elemen bergerak bersama menyiapkan fasilitas pendukung dan paket perjalanan yang matang, deru Jeep tidak berhenti di jalan, tetapi bergema dalam ekonomi warga,” pungkas Mahendra.






