Kirka – Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut kebijakan hilirisasi komoditas desa yang dijalankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung berhasil menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Langkah Gubernur Rahmat Mirzani Djausal bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela terbukti mengerek pertumbuhan ekonomi Lampung hingga mencapai 5,29 persen pada triwulan II 2026, sekaligus menempati urutan tertinggi kedua di Pulau Sumatera.
“Capaian positif perekonomian Lampung tidak lepas dari keberanian kepala daerah menempatkan pengolahan komoditas desa sebagai prioritas utama.
“Fokus pembangunan yang bertumpu pada kekuatan lokal terbukti efektif menciptakan pemerataan kesejahteraan,” kata Mahendra Utama dalam keterangannya, Rabu, 14 Oktober 2026.
Menurut Mahendra, keseriusan Pemprov Lampung terlihat dari berbagai program pengolahan hasil bumi secara menyeluruh dari hulu ke hilir.
Sejumlah proyek prioritas yang sedang berjalan meliputi pengolahan singkong menjadi tepung Modified Cassava Flour (MOCAF) dan bioetanol, peningkatan nilai tambah kopi, pembangunan Kawasan Industri Energi Terpadu Katibung, serta pembentukan National Cassava Center.
Upaya peningkatan nilai tambah komoditas turut diperkuat langsung dari tingkat tapak melalui program Desaku Maju.
Lewat skema pemberdayaan pedesaan, para petani memperoleh dukungan pengadaan mesin pengering (bed dryer), bantuan pupuk hayati cair, pelatihan vokasi bagi warga, hingga perbaikan infrastruktur jalan produksi.
Kendati mencatatkan tren pertumbuhan yang menggembirakan, potensi pengembangan industri pengolahan di Bumi Ruwa Jurai masih terbuka sangat lebar.
Merujuk data Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, tingkat hilirisasi komoditas unggulan daerah baru menyentuh 45,6 persen dari total nilai ekonomi sumber daya primer sebesar Rp165,31 triliun.
Berangkat dari data Bank Indonesia, Mahendra berpendapat bahwa optimalisasi potensi sumber daya primer menuntut kerja bersama yang terintegrasi.
Senada dengan pernyataan Bimo Epyanto, ia menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar urusan mendirikan pabrik, melainkan membangun rantai pasok utuh yang mencakup aspek produksi, kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, akses pembiayaan, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia.
“Pembangunan yang berfokus pada kawasan industri unggulan selaras dengan growth pole theory atau teori kutub pertumbuhan dari Perroux dan Hirschman.
“Kawasan pengolahan di daerah sentra akan bekerja sebagai pusat pertumbuhan yang menyebarkan dampak ekonomi berlipat ke wilayah sekitar,” ujar Mahendra.
Di samping mengejar angka pertumbuhan, Mahendra mengingatkan agar ekspansi industri pedesaan tetap berjalan beriringan dengan kelestarian alam.
Mengutip konsep Inclusive Green Growth yang dikemukakan Setiawan (2023), ia menekankan bahwa industrialisasi bahan baku lokal wajib menjaga keseimbangan lingkungan hidup sekaligus merangkul keterlibatan masyarakat desa.
Keberhasilan menjaga laju ekonomi daerah, lanjut Mahendra, merupakan buah kolaborasi lintas sektor yang solid.
Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada Gubernur Mirza, Wakil Gubernur Jihan, jajaran Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), para petani, serta seluruh pelaku usaha pedesaan yang terus berinovasi.
“Apabila perluasan hilirisasi mampu menjangkau 500 desa sentra produksi secara konsisten, Lampung sangat berpeluang menjadi percontohan nasional dalam pembangunan daerah berbasis potensi lokal di Indonesia,” tutup Mahendra.






