Ekonomi Lampung Tumbuh 5,29 Persen di Era Kepemimpinan Mirza-Jihan

Ekonomi Lampung Tumbuh 5,29 Persen di Era Kepemimpinan Mirza-Jihan
Mahendra Utama sebut pertumbuhan ekonomi Lampung sebesar 5,29% pada Triwulan II 2026 merupakan hasil nyata dari perombakan mendasar dan kolaborasi lintas sektor berbasis desa yang diusung pasangan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wagub Jihan Nurlela. Foto: Arsip Adpim/Kirka/Iz

Kirka – Perekonomian Provinsi Lampung mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan II 2026.

Capaian positif triwulan kedua menempatkan Lampung di posisi kedua tertinggi se-Sumatera di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut performa ekonomi Lampung bukan sekadar deretan angka statistik di atas kertas.

Menurutnya, lonjakan pertumbuhan daerah merupakan hasil nyata dari perombakan mendasar yang dijalankan pasangan pemimpin muda Lampung sejak dilantik untuk periode 2025–2030.

“Akselerasi ekonomi Lampung terlihat sangat jelas sejak Gubernur Mirza dan Wakil Gubernur Jihan memegang kendali pemerintahan.

“Sepanjang 2025 lalu, pertumbuhan ekonomi sudah menyentuh 5,28 persen, melesat jauh dibandingkan capaian tahun 2024 yang berada di level 4,57 persen pada masa kepemimpinan sebelumnya,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Rabu, 14 Oktober 2026.

Tren penguatan ekonomi daerah berbanding lurus dengan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kinerja kepala daerah.

Merujuk data survei Rakata Analytics and Advisory periode Agustus 2026, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Gubernur Mirza mencapai 81,75 persen, sementara Wakil Gubernur Jihan mengantongi angka kepuasan 80,38 persen.

Transformasi Ekonomi Berbasis Desa

Lebih lanjut, Mahendra menjelaskan bahwa arah kebijakan ekonomi pasangan Mirza-Jihan berjalan selaras dengan teori pertumbuhan endogen (endogenous growth theory).

Konsep pembangunan modern menempatkan faktor internal daerah mulai dari inovasi, kapasitas institusi, gaya kepemimpinan, hingga proses pembelajaran sebagai motor penggerak utama kemajuan jangka panjang.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung secara konsisten menggeser pendekatan lama trickle down effect menuju bottom up economy yang bertumpu pada kekuatan potensi desa.

Langkah strategis daerah berlandaskan langsung pada amanat Pasal 33 UUD 1945 serta program Asta Cita.

“Gubernur Mirza mengubah paradigma pembangunan dengan memperkuat fondasi ekonomi dari tingkat desa.

“Hasilnya terbukti efektif, di mana sektor pertanian tetap kokoh menjadi tulang punggung utama dengan sumbangan 26,90 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto atau setara Rp150 triliun,” kata Mahendra.

Buah Kolaborasi Lintas Sektor

Kendati kepemimpinan kepala daerah memegang peran sentral, Mahendra mengingatkan bahwa kokohnya fundamental ekonomi Lampung tidak lepas dari kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.

Sinergi kuat terbangun apik antara jajaran Pemprov Lampung, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung.

Selain peran regulator dan instansi vertikal, kontribusi para pelaku usaha serta kerja keras petani di lapangan menjadi kunci terjaganya daya beli dan produksi komoditas daerah.

“Apresiasi tinggi patut diberikan kepada jajaran Pemprov Lampung, Bank Indonesia, Kanwil DJPb Kemenkeu, OJK, hingga kalangan pengusaha dan para petani yang terus menjaga ritme pertumbuhan.

“Kolaborasi lintas sektor yang solid menjadikan Lampung sebagai kekuatan ekonomi yang sangat diperhitungkan di kawasan Sumatera,” tutur Mahendra.