Hilirisasi Pertanian Lampung: Strategi 13 Bupati Dongkrak Kesejahteraan Petani

Hilirisasi Pertanian Lampung: Strategi 13 Bupati Dongkrak Kesejahteraan Petani
Pemerhati Pembangunan Mahendra Utama, mendorong 13 bupati se-Lampung untuk segera mengadopsi teknologi hilirisasi pertanian guna mendongkrak pendapatan petani. Foto: Arsip pribadi/Kirka

KirkaProvinsi Lampung yang dikenal luas sebagai lumbung pangan nasional untuk komoditas padi, jagung, dan singkong, rupanya masih dibayangi oleh tingginya angka kehilangan hasil pascapanen (post harvest losses).

Merespons kondisi kritis yang diklaim mencapai 20 hingga 30 persen tersebut, Tenaga Percepatan Pembangunan (TPP) Provinsi Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, mendesak 13 bupati di wilayahnya untuk segera mengimplementasikan program hilirisasi pertanian secara menyeluruh.

Menurut Pemerhati Pembangunan ini, kerugian pasca panen merupakan problem struktural yang terus menghambat laju kesejahteraan petani daerah.

Ia menilai, keberhasilan program bantuan Bed Dryer (mesin pengering) yang digagas Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal harus dijadikan cetak biru oleh seluruh pemerintah kabupaten (Pemkab).

“Intervensi teknologi tepat guna (appropriate technology) terbukti menjadi solusi yang sangat riil di lapangan.

“Kini, saatnya ketiga belas bupati se-Lampung mengambil tongkat estafet untuk memperluas dan mereplikasi langkah progresif ini hingga ke tingkat desa,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Minggu, 31 Mei 2026.

Dari kacamata ekonomi makro, lanjutnya, kebiasaan menjual komoditas murni dalam bentuk mentah rentan menjebak petani ke dalam jurang kemiskinan.

Tokoh Eksponen 98 itu merujuk pada Teori Nilai Tambah (Value Added Theory) yang menegaskan bahwa pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi, atau bahkan barang jadi, adalah kunci utama guna memperlebar margin keuntungan.

“Bayangkan jika gabah bisa disulap menjadi beras premium, jagung pipilan diolah untuk pakan ternak mandiri, atau singkong diproses menjadi tepung mocaf.

“Pemkab tidak sekadar menyelamatkan hasil panen dari ancaman cuaca atau pembusukan, tetapi otomatis melipatgandakan postur pendapatan petani lokal kita,” tegasnya.

Guna mengakselerasi transformasi di tingkat kabupaten, Mahendra menyarankan empat perangkat teknologi pengolahan sederhana dan efektif yang sangat layak disokong melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Keempat teknologi tersebut meliputi:

  1. Bed Dryer: Mesin pengering mekanis berkapasitas besar guna menjaga standar mutu komoditas, terutama saat curah hujan tinggi.
  2. RMU (Rice Milling Unit) Mini: Unit penggilingan padi skala kecil yang didesain untuk memproduksi beras dengan kualitas pasar yang tinggi.
  3. Chopper atau Grinder Jagung: Mesin pencacah yang esensial dalam menyokong terbentuknya industri pakan ternak mandiri di pedesaan.
  4. Mesin Pengolah Mocaf: Perangkat modern untuk mengekstraksi singkong menjadi tepung modifikasi bernilai jual premium.

Lebih jauh, pria yang pernah aktif sebagai aktivis mahasiswa tersebut mengingatkan para kepala daerah akan relevansi Teori Inovasi dari Joseph Schumpeter.

Pertumbuhan ekonomi sebuah daerah, tuturnya, sangat bergantung pada daya adaptasi teknologi dan penguatan kelembagaan di tingkat akar rumput.

Berdasarkan tesis tersebut, Mahendra memaparkan tiga langkah strategis yang harus segera dieksekusi.

Pertama, perlunya alokasi anggaran stimulus secara khusus untuk pengadaan mesin pengolahan bagi kelompok tani.

Kedua, percepatan pembentukan dan penguatan Koperasi atau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sebagai ujung tombak manajerial unit hilirisasi.

Terakhir, membangun sinergi berkelanjutan dengan kalangan akademisi guna memastikan adanya pendampingan teknis di lapangan.

“Hilirisasi komoditas saat ini bukan lagi sekadar wacana populis atau pilihan opsional, melainkan sebuah keharusan absolut demi mewujudkan kedaulatan pangan dan mengangkat taraf hidup masyarakat Lampung secara permanen,” pungkas Mahendra.