Sosok  

Tiga Raja yang Terjaga, Karya: Mahendra Utama

Tiga Raja yang Terjaga, Karya: Mahendra Utama
Foto Mahendra Utama (kiri) ini menangkap semangat di salah satu sentra jagung (Umpu Semenguk, Buay Bahuga, atau Gunung Labuhan) yang menjadi latar belakang perlawanan terhadap ketergantungan lama. Foto: Arsip pribadi

Kirka – Karya sastra ini merekam dengan tajam realitas sosial ekonomi para petani jagung di tiga sentra utama Kabupaten Waykanan, yakni Umpu Semenguk, Buay Bahuga, dan Gunung Labuhan.

Bait-bait awalnya memotret sebuah ironi yang kerap terjadi di lumbung pangan, tanah yang subur dan panen melimpah belum mampu mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat setempat.

Petani seolah menjadi tamu di tanahnya sendiri akibat panjangnya rantai distribusi yang dikuasai tengkulak.

Nilai tambah dari hasil bumi menguap begitu saja ke luar daerah tanpa menyisakan jejak kemajuan bagi desa-desa penghasilnya.

Lebih dari sekadar keluh kesah, barisan kalimat selanjutnya menawarkan peta jalan menuju kemandirian ekonomi desa melalui langkah hilirisasi.

Ada dorongan kuat untuk mengubah sistem yang lama dengan membangun ekosistem kolaborasi nyata antara Gapoktan, BUMDes, Bulog, dan pabrik mini di tingkat desa.

Menggemakan filosofi pembangunan Robert Chambers, putting the last first, gagasan yang diusung menitikberatkan pada keberpihakan terhadap masyarakat bawah.

Transformasi dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi produsen berdaulat dengan identitas produk sendiri merupakan napas utama dari pergerakan tersebut, memanggil desa-desa di Waykanan untuk bangkit, mengelola potensi daerahnya, dan merdeka secara finansial.

 

Tiga Raja yang Terjaga

 

Karya: Mahendra Utama

 

Di Umpu Semenguk, jagung menjulang tinggi

Buay Bahuga membentang hijau tak terperi

Gunung Labuhan menyimpan ribuan mimpi

Tiga raja bersimpuh di tanah yang sunyi

 

Berapa lama lagi kami jadi tuan di ladang sendiri?

Berapa musim lagi butir emas pergi tanpa makna?

Rantai panjang merenggut harga, tengkulak tertawa

Sementara desa-desa haus akan pabrik dan cerita

 

Kini angin berembus dari utara—Rahmat datang

Bed dryer akan menyala, POC membasahi tanah liat

Pabrik penggilingan terbangun dari tidur panjang

“Beras Way Kanan” kelak jadi merek yang tepat

 

Wahai Gapoktan, BUMDes, Bulog, pabrik mini desa!

Jalin kolaborasi empat pilar, putus ketergantungan lama

Bukan lagi pemasok mentah bagi kota yang meraja

Tapi subjek pembangunan, tuan di bumi sendiri, merdeka!

 

Mari bakar semangat Chambers: putting the last first

Jadikan setiap bulir jagung saksi perlawanan

Hilirisasi adalah jalan, DesaKu Maju adalah nafas

Tiga raja bangkit! Way Kanan berdaulat di kancah persada

 

 

Serupa Indah, Pakuanratu, Way Kanan, 7 April 2026

Catatan: Puisi terinspirasi dari 3 sentra jagung Way Kanan yang masih tertinggal dalam proses hilirisasi.