Kirka – Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global menyentuh angka 3,3 persen pada tahun 2026.
Laporan terbaru World Economic Outlook edisi awal 2026 ini menyoroti pergeseran dramatis pusat gravitasi ekonomi dunia, di mana negara-negara berkembang dan kawasan Asia kini mendominasi kontribusi Produk Domestik Bruto (GDP) riil global.
Terdapat 10 negara yang tercatat sebagai motor utama penggerak ekonomi dunia tahun ini, yakni China, India, Amerika Serikat, Indonesia, Turki, Arab Saudi, Vietnam, Brasil, Nigeria, dan Jerman.
Menanggapi rilis data tersebut, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai proyeksi IMF merupakan cerminan nyata dari teori catch up growth.
Menurutnya, dominasi Asia membuktikan bahwa negara berkembang mulai cerdik memanfaatkan teknologi dan investasi untuk mengejar ketertinggalan dari negara maju.
“Di tengah ketidakpastian global pasca pandemi dan ketegangan geopolitik, pusat gravitasi ekonomi benar-benar bergeser.
“China dan India saja diproyeksikan menyumbang hampir 44 persen dari total pertumbuhan.
“Namun, di balik angka impresif ini, ada ancaman nyata terkait ketergantungan sumber daya alam dan ketimpangan yang harus diwaspadai,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Selasa, 24 Februari 2026.
Dominasi Asia
Dalam analisisnya, Mahendra merinci bagaimana dua raksasa Asia, China dan India, memimpin laju pertumbuhan.
China tercatat memberikan kontribusi terbesar yakni 26,6 persen, didorong oleh skala ekonomi yang masif dan transisi menuju teknologi tinggi seperti kecerdasan buatan (AI) serta energi hijau.
“Inovasi kini menjadi penggerak utama China. Namun, kita harus tetap kritis.
“Populasi yang menua dan rasio utang lokal yang menyentuh 300 persen dari GDP berisiko memicu gelembung ekonomi,” tegas eksponen 98 tersebut.
Hal ini sejalan dengan pandangan Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, yang mengingatkan bahwa China harus piawai menavigasi pergeseran kebijakan perdagangan global untuk menjaga momentumnya.
Sementara itu, India menyusul dengan kontribusi 17 persen.
Keunggulan India, menurut Mahendra, terletak pada bonus demografi dan kesuksesan program Digital India yang mendongkrak sektor IT dan manufaktur.
Potensi besar itu bahkan sempat memicu komentar CEO Tesla, Elon Musk, yang menyebut bahwa keseimbangan kekuatan dunia sedang berubah arah.
Peluang dan Ancaman
Yang menarik, Indonesia berhasil mengamankan posisi strategis dengan kontribusi sebesar 3,8 persen terhadap pertumbuhan global.
Angka ini ditopang oleh melimpahnya cadangan nikel sebagai komoditas kunci transisi energi dan kekuatan pasar domestik yang sangat besar.
Sebagai tokoh yang juga menjabat sebagai Tenaga Pendamping Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Industri dan Perdagangan, Mahendra Utama memberikan catatan khusus bagi pemerintah.
“Keunggulan komparatif kita memang ada pada sumber daya alam.
“Namun, eksploitasi yang tidak dibarengi dengan hilirisasi yang ramah lingkungan dan tata kelola yang bersih justru berpotensi memicu jebakan resource curse (kutukan sumber daya alam),” paparnya memperingatkan.
Bertahannya Negara Maju
Meski didominasi negara berkembang, negara maju seperti Amerika Serikat (9,9 persen) dan Jerman (0,9 persen) tetap mempertahankan relevansinya, meski dengan porsi yang terus mengecil.
Inovasi Silicon Valley dan ekspor rekayasa teknik (engineering) masih menjadi mesin utama kedua negara tersebut, walau dibayangi ancaman polarisasi politik di AS dan mahalnya biaya transisi energi di Jerman.
Lebih lanjut, Mahendra juga menyoroti performa impresif dari deretan emerging markets lainnya yang berhasil masuk ke dalam daftar 10 besar:
Turki (2,2%) & Vietnam (1,6%): Keduanya diuntungkan oleh relokasi manufaktur global dan letak geografis yang strategis.
Arab Saudi (1,7%): Berhasil mendorong diversifikasi ekonomi di luar minyak melalui Vision 2030.
Brasil (1,5%) & Nigeria (1,5%): Mengandalkan kekuatan sektor agrikultur, komoditas hijau, dan bonus demografi yang diwarnai pertumbuhan pesat sektor teknologi.
“Proyeksi IMF membawa satu pelajaran penting. Pergeseran ke Global South adalah kenyataan, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada reformasi struktural di masing-masing negara.
“Waktunya Indonesia bertindak tepat sasaran agar tidak terjebak dalam pertumbuhan semu,” pungkas Mahendra.






