Kirka – Dominasi pemberitaan soal kelapa sawit dan nikel seringkali menutupi potensi besar komoditas pertanian lain.
Padahal, tanpa banyak sorotan publik, dua jenis sayuran asal Indonesia, edamame dan okra kini mencatatkan performa ekspor yang impresif dan konsisten menembus ketatnya standar pasar global.
Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan, Mahendra Utama, menyebut fenomena ini sebagai munculnya emas hijau baru.
Menurutnya, kemampuan menembus pasar Jepang dan Eropa membuktikan bahwa produk pertanian Indonesia memiliki standar kualitas yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Ini komoditas sunyi yang kerjanya nyata. Di saat kita sibuk bicara tambang, edamame dan okra kita diam-diam sudah menjadi primadona di meja makan masyarakat Jepang.
“Dan itu adalah bukti Indonesia mampu menjadi pemain kunci dalam rantai pasok pangan bernilai tambah tinggi,” tegas Mahendra di Bandarlampung, Jumat, 6 Februari 2026.
Pasar dan Ekspor
Analisis pasar menunjukkan tren yang solid.
Mahendra memaparkan, kebutuhan global edamame kini menyentuh angka 100.000 ton per tahun dengan Jepang sebagai penyerap utama, menguasai sekitar 70 persen pangsa pasar.
Posisi Indonesia di pasar ini cukup strategis.
Merujuk data tahun 2019, ekspor edamame nasional sudah menembus 6.790 ton ke 13 negara.
“Jepang menyerap 80 persen dari total ekspor kita. Artinya, lidah pasar global sudah cocok dengan kualitas tropis kita,” paparnya.
Setali tiga uang, okra pun menunjukkan grafik menanjak seiring tren gaya hidup sehat global.
Pada 2023, nilai ekspor okra segar Indonesia tercatat mencapai USD 16,08 juta dengan volume 8.710 ton.
Dominasi Jepang di sini bahkan lebih mutlak, menyerap 93,55 persen dari total ekspor okra Indonesia.
Ekspansi dan Gerbang Eropa
Keberhasilan tersebut, lanjut Mahendra, tak lepas dari manuver korporasi di sektor hilir, salah satunya PT Mitratani Dua Tujuh (MDT).
Anak usaha PTPN I itu dinilai berhasil membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan dengan mengelola 450 hektare lahan dan menerapkan standar keamanan pangan yang ketat.
Mahendra menyoroti langkah agresif MDT yang baru saja membuka gerbang pasar Eropa pada Desember 2025 lalu melalui ekspor perdana 80 ton okra ke Yunani.
“Targetnya tidak main-main, mereka membidik volume ekspor okra hingga 1.000 ton pada 2026.
“Ini sinyal kuat bahwa pasar kita sedang melebar, tidak lagi hanya bergantung pada Asia Timur,” ulas Mahendra.
Kode HS dan Infrastruktur Rantai Dingin
Kendati prospeknya cerah, Mahendra memberikan catatan kritis bagi pemerintah dan pemangku kepentingan.
Ia menilai momentum 2026 di mana rantai pasok global sedang mencari alternatif akibat iklim ekstrem harus dimanfaatkan dengan pembenahan internal.
Isu infrastruktur pascapanen menjadi sorotan utamanya.
Teknologi pembekuan cepat (quick freezing) dan rantai dingin (cold chain) dinilai mutlak diperlukan untuk menjaga kesegaran produk hingga ke negara tujuan.
“Lebih krusial lagi soal data. Pemerintah perlu segera memisahkan kode HS (Harmonized System) khusus untuk edamame dan okra yang selama ini datanya masih bercampur.
“Tanpa pemisahan kode, kita akan kesulitan melakukan analisis pasar yang presisi dan merumuskan kebijakan yang tepat sasaran,” kritik Mahendra.
Menutup keterangannya, Mahendra menekankan perlunya rebranding produk pertanian Indonesia.
“Kita harus berani membranding produk ini sebagai Tropical Premium.
“Jangan hanya jual mentah, tapi dorong produk olahan siap santap agar nilai tambahnya berlipat ganda bagi petani dan negara,” pungkasnya.






