Kirka – Wacana menyatukan kekuatan Banten, Lampung, dan Sumatera Selatan (Sumsel) ke dalam satu ekosistem agroindustri raksasa terus mengemuka.
Tiga wilayah bertetangga tersebut sejatinya memiliki kekayaan alam melimpah, namun gerak ekonominya masih sering berjalan sendiri-sendiri tanpa rantai pasok yang terpadu.
Pemerhati Pembangunan sekaligus Eksponen 98, Mahendra Utama, menilai kolaborasi lintas provinsi merupakan sebuah keharusan untuk mendongkrak perekonomian daerah.
Menyatukan ketiganya dalam sebuah klaster industri pertanian yang saling melengkapi diyakini bakal melahirkan kekuatan ekonomi baru berskala nasional.
“Bayangkan kalau potensi Banten, Lampung, dan Sumsel tidak lagi digarap secara terpisah.
“Jika dilebur dalam satu wadah agroindustri, efek ledakan aglomerasinya akan sangat besar bagi kesejahteraan masyarakat luas,” ujar Mahendra, Minggu, 12 April 2026.
Catatan makroekonomi memperlihatkan fondasi yang sangat mendukung bagi ketiga wilayah.
Sepanjang tahun 2025, Lampung sukses mencatat pertumbuhan 5,28 persen, jauh melampaui rata-rata pulau Sumatera.
Sektor pertanian menyumbang porsi terbesar hingga 26,90 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Fakta tersebut sangat sejalan dengan target Gubernur Rahmat Mirzani Djausal untuk mewujudkan lumbung pangan nasional melalui program Desaku Maju.
Pencapaian serupa terjadi di Sumsel. Dengan angka pertumbuhan mencapai 5,35 persen, provinsi yang dipimpin Herman Deru tersebut berhasil meraup nilai ekspor komoditas tanaman hingga Rp8,95 triliun pada akhir tahun lalu lewat terobosan aplikasi Go-Export.
Sementara di seberang Selat Sunda, Banten di bawah kendali Andra Soni mampu menyedot investasi puluhan triliun rupiah dan tumbuh 5,33 persen pada triwulan kedua, menjadikannya gerbang utama distribusi ke pasar global maupun domestik.
Bukan Jual Mentah
Mahendra mengingatkan bahwa kekayaan alam semata tidak cukup untuk memenangkan persaingan pasar modern.
Mengacu pada gagasan keunggulan kompetitif dari pakar ekonomi Michael Porter, daya saing sebuah daerah harus dibangun lewat inovasi dan keterpaduan antarsektor.
Masing-masing provinsi sudah memegang kartu as.
Banten memiliki keunggulan fasilitas Pelabuhan Merak beserta akses pasar yang luas.
Lampung sangat tangguh menangani pasokan pangan, sedangkan Sumsel memegang kendali atas komoditas unggulan seperti sawit dan karet.
Hambatan jarak pun perlahan mulai teratasi berkat pembangunan infrastruktur yang masif.
Jalan Tol Trans Sumatera ruas Terbanggi Besar–Kayu Agung telah sukses memangkas waktu tempuh dari Lampung ke Palembang, yang semula memakan waktu hingga sembilan jam, kini hanya tersisa 4,5 jam saja.
“Konektivitas daratnya sudah tersambung mulus, sekarang tinggal eksekusi kebijakannya.
“Contoh penerapannya sederhana, hasil bumi seperti singkong atau kopi dari Lampung diproses pada pabrik-pabrik di Banten untuk diekspor, lalu pupuk NPK dari Sumsel dikirim untuk menyuburkan perkebunan di Lampung.
“Rantai pasoknya berputar saling menguntungkan,” papar Mahendra.
Tunggu Langkah
Titik temu dari ketiga pemimpin daerah sebenarnya sudah terlihat jelas.
Andra Soni, Rahmat Mirzani Djausal, dan Herman Deru sama-sama memiliki visi membangun perekonomian berbasis potensi lokal.
Kini, tinggal bagaimana ketiganya bersedia meruntuhkan sekat-sekat wilayah administrasi demi tujuan yang lebih besar.
Mahendra berharap segera terwujud kesepakatan resmi atau kerja sama trilateral antar kepala daerah tersebut.
Pembentukan klaster agroindustri gabungan dipastikan bakal melambungkan angka ekspor nasional secara signifikan.
“Infrastrukturnya sudah siap, data ekonominya bagus, dan kepemimpinan mereka juga masih segar.
“Yang dibutuhkan sekarang hanya keberanian membuang ego sektoral daerah lalu mulai bekerja sama secara nyata.
“Kekuatan kita ke depan ditentukan oleh cara kita mengelola sumber daya secara bersama-sama,” tegasnya.






