Kirka – Stigma bahwa daun tembakau hanya berujung menjadi kepulan asap rokok perlahan harus ditinggalkan.
Di tengah makin ketatnya tantangan industri hasil tembakau global, Indonesia dituntut memutar otak.
Jawabannya mengerucut pada satu strategi, hilirisasi cerdas yang membidik industri kosmetik dan farmasi dunia.
Gagasan ini ditegaskan oleh Pemerhati Pembangunan asal Lampung, Mahendra Utama.
Menurutnya, sejarah panjang komoditas tembakau Nusantara dari era tanam paksa hingga menjadi primadona cerutu dunia adalah bukti ketangguhan yang tak boleh tergerus pergantian zaman.
“Sejak abad ke-17, kualitas tembakau kita, terutama varietas dari Deli, Klaten, dan Besuki, sudah diakui sebagai top grade di pasar internasional.
“Aset yang pasca kemerdekaan dinasionalisasi dan kini dikelola PTPN ini adalah fondasi kokoh. Sangat disayangkan jika nilainya mentok hanya di industri rokok,” ujar Mahendra di Bandarlampung, Senin, 23 Februari 2026.
Produksi tembakau nasional sejatinya masih sangat menjanjikan.
Merujuk data Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2024, Jawa Timur tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi mencapai 47,67 persen dari total panen nasional.
Namun, produksi yang melimpah ini membutuhkan lompatan nilai tambah.
Mengutip teori rantai nilai klasik dari Michael Porter (1985), Mahendra mengingatkan bahwa keuntungan maksimal sebuah komoditas selalu tersembunyi di sektor hilir.
Alih-alih sekadar diekspor mentah atau diolah menjadi cerutu premium, tembakau menyimpan potensi raksasa sebagai bahan baku medis dan kecantikan.
Mahendra sepakat dengan ulasan Muhammad Kamil Sadili di Wartaniaga.id, yang menyebut ekstrak nikotin farmasi adalah prospek masa depan.
“Coba bayangkan, alih-alih dibakar, tembakau ini diekstrak menjadi patch (koyo) anti nyeri atau formulasi krim anti aging. Nilai ekonominya naik berkali-kali lipat,” jelas Mahendra yang saat ini tergabung dalam Tim Percepatan Pembangunan (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindag tersebut.
Riset dan Regulasi
Tentu, ambisi menembus pasar sains global ini bukan tanpa syarat.
Pria yang menjabat sebagai Komisaris Utama PT Deli Megapolitan Kawasan Bisnis sejak Juli 2020 ini menekankan pentingnya ekosistem riset yang terintegrasi dan regulasi yang mendukung.
Untuk bisa bersaing, kolaborasi segitiga antara PTPN, perguruan tinggi, dan raksasa industri kosmetik/farmasi global menjadi harga mati. Di titik inilah kehadiran negara sangat krusial.
“Pemerintah harus berani memberikan insentif khusus bagi riset-riset hilirisasi ini.
“Langkah itu sangat sejalan dengan agenda industrialisasi hijau yang sedang kita kejar,” tegas sosok yang juga pernah menjabat sebagai Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh (2023-2025) ini.
Diversifikasi produk turunan diyakini akan menjadi pelampung penyelamat bagi jutaan petani dari fluktuasi pasar rokok yang rentan.
Lebih dari itu, hilirisasi akan mengembalikan muruah tembakau sebagai komoditas bernilai sains tinggi.
“Petani nantinya tidak lagi hanya bergantung pada satu pabrikan rokok, tapi menjadi mata rantai penting dari pasokan kesehatan dan kecantikan dunia.
“Sudah saatnya Indonesia memimpin pasar,” pungkas Mahendra.






