Kirka – Euforia keberhasilan Provinsi Lampung menembus 10 besar Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 tak boleh melenakan.
Di atas kertas, capaian skor 3,50 yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada akhir Februari lalu memang mengantarkan Sang Bumi Ruwa Jurai ke peringkat delapan nasional.
Namun, jika dibedah lebih tajam, angka tersebut sejatinya menitipkan peringatan keras bagi para pemangku kebijakan daerah.
Eksponen 98 sekaligus Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, memandang lompatan peringkat ini bukan sebuah garis akhir, melainkan titik kritis.
Ia menyoroti fakta bahwa skor 3,50 yang diraih Lampung berposisi sejajar dengan rata-rata nasional yang juga merangkak naik.
“Secara peringkat kita memang melesat ke 10 besar, tetapi secara produktivitas, laju kita baru sebatas bergerak searah dengan tren nasional.
“Pertanyaannya, kapan Lampung mau benar-benar berlari meninggalkan rata-rata,” ujar Mahendra, Jumat, 13 Maret 2026.
Fondasi Kuat, Ekosistem Pasar Tercekat
Merujuk pada postur daya saing berkelanjutan, Lampung jelas diuntungkan oleh posisinya sebagai gerbang utama Pulau Sumatera.
Hal ini tercermin dari pilar Ukuran Pasar yang menyentuh angka impresif 4,63 jauh melampaui agregat nasional di angka 4,38.
Begitu pula dengan pilar Institusi (4,30) dan Stabilitas Ekonomi Makro (3,88) yang terbukti menjadi bantalan empuk perekonomian daerah.
Sayangnya, besarnya skala pasar ini urung diimbangi dengan efisiensi di lapangan.
Kegagapan ekosistem justru tergambar jelas pada anjloknya skor Pasar Produk di angka 2,22 dan Pasar Tenaga Kerja yang tertahan di 2,46.
Sebagai sosok yang memiliki rekam jejak panjang di sektor pertanian, perkebunan, serta pengembangan industri daerah, Mahendra melihat rapuhnya dua pilar ini sebagai alarm nyata.
Angka tersebut mengindikasikan masih adanya sumbatan serius pada rantai distribusi, sekaligus cermin belum bertemunya kompetensi angkatan kerja lokal dengan spesifikasi yang direkrut oleh industri modern.
Metro dan Disparitas
Ketimpangan tak berhenti pada sektor indikator, tetapi juga merambat ke konstelasi antar wilayah.
Membedah peta internal Provinsi Lampung, Kota Metro muncul sebagai anomali positif atau meminjam istilah Mahendra: mercusuar inovasi.
Dengan torehan skor 4,19, Metro tak hanya merajai klasemen lokal, tetapi juga kukuh bertahan di jajaran kota paling progresif di luar Pulau Jawa.
Paradoksnya, kegemilangan Metro menyisakan pekerjaan rumah yang tak ringan perihal disparitas wilayah.
Kawasan penyangga lain seperti Pesisir Barat atau Mesuji masih tertatih di kisaran angka 3,0-an.
“Ini tantangan riil ke depan. Kemajuan tidak boleh hanya terpusat di Metro atau Bandarlampung.
“Keberhasilan Metro membuktikan bahwa daerah dengan sumber daya alam terbatas pun bisa berakselerasi sangat cepat jika tata kelola dan ekosistem inovasinya hidup,” tegasnya.
Jalan Transformasi
Kegelisahan yang dilontarkan Mahendra beresonansi kuat dengan pesan Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria.
Dalam peluncuran IDSD, Arif memosisikan penguatan inovasi di tingkat daerah sebagai motor utama untuk menopang target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,3 persen.
Agar Lampung berhenti sekadar menjadi pintu masuk atau jalur perlintasan logistik, Mahendra merumuskan tiga peta jalan krusial yang harus dieksekusi.
Pertama, mutlak dilakukannya hilirisasi pertanian. Komoditas andalan seperti kopi, lada, hingga nanas harus dipaksa naik kelas menjadi produk industri bernilai tambah tinggi.
Kedua, pemanfaatan infrastruktur Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) harus dikelola lebih agresif untuk memangkas beban logistik para pelaku UMKM.
Terakhir, sinkronisasi (link and match) antara dunia pendidikan dan kawasan industri di Lampung tak bisa lagi ditawar, agar lulusan lokal tak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri.
“Masuknya Lampung ke dalam 10 besar IDSD 2025 adalah prestasi administratif yang luar biasa.
“Namun, skor 3,50 ini adalah modal awal. Jika mesin inovasi tidak segera dipacu, tahun depan kita hanya akan jalan di tempat, puas di papan tengah, dan gagal memimpin di garis depan,” pungkas Mahendra.






