Menu
Precision, Actual & Factual

Sosok Khairil Adha yang disebut Hendry Rosyadi dalam Sidang Korupsi Lampung Selatan

  • Bagikan
Khairil Adha. Foto Istimewa

KIRKA.CO – Nama Iril mendadak menjadi perhatian setidaknya bagi majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Tanjungkarang, pada Rabu, 24 Maret 2021, yang menyidangkan berkas perkara korupsi pada Dinas PU-PR Lampung Selatan (Lamsel). Perkara tersebut merupakan hasil dari tindak lanjut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai eks Bupati Lamsel Zainudin Hasan dkk divonis.

Saat itu, majelis hakim bertanya kepada Ketua DPRD Lamsel Hendry Rosyadi tentang nama tersebut ketika menjadi saksi untuk dua orang terdakwa, yakni eks Kadis PU-PR Lamsel Hermansyah Hamidi; dan eks Kabid Pengairan Dinas PU-PR Lamsel Syahroni.

Sebelum majelis hakim bertanya, Hendry Rosyadi telah beberapa kali menyebut nama itu sebagai kontraktor di Lamsel yang menyampaikan keluhan ihwal tidak adanya ‘jatah’ paket proyek untuk pemborong asli di daerah tersebut, pada Dinas PU-PR.

Ujung dari keluhan kemudian disampaikan Hendry Rosyadi kepada Zainudin Hasan. Singkatnya, Zainudin Hasan memerintahkan Dinas PU-PR Lamsel agar mengakomodir permintaan itu. Syahroni adalah sosok yang mengaku kemudian telah menyiapkan paket proyek senilai Rp 10 miliar kepada Hendry Rosyadi atas perintah eks Kadis PU-PR Anjar Asmara pada tahun 2018.

Hendry Rosyadi mengaku memang telah ada penyediaan proyek kepadanya. Hanya saja nilainya tidak Rp 10 miliar, melainkan Rp 4,9 miliar. Menurut Hendry Rosyadi, paket proyek tersebut disalurkan kepada para kontraktor, salah satunya Iril.

Kepada majelis hakim, Hendry Rosyadi mengaku nama lengkap Iril tersebut adalah Khairil Adha. Adik kandungnya, yang disebutnya sebagai seorang Ketua Asosiasi Gapeknas.

“Hanya menyalurkan aspirasi (para kontraktor di Lampung Selatan). Kenal (dengan Iril). Adik saya, Ketua Asosiasi Gapeknas Khairil Adha. Salah satu ketua asosiasi di Kalianda,” jelas Hendry Rosyadi.

Hendry Rosyadi menegaskan bahwa paket proyek kepada adiknya tersebut tidak disebabkan posisi ia sebagai Ketua DPRD Lamsel untuk dua periode, sejak tahun 2014. “Bukan. Sebelum saya menjadi dewan, dia sudah menjadi pemborong,” akunya.

Dari penelusuran KIRKA.CO, Khairil Adha adalah Sekretaris DPC PDI-P Lamsel. Hendry Rosyadi sendiri adalah Ketua DPC PDI-P Lamsel. Pada Rabu, 11 Maret 2020, Khairil Adha diketahui tidak lagi menjabat sekretaris. Disebut-sebut, tidak menjabatnya Khairil Adha sebagai sekretaris atas perintah DPP PDI-P.

Sepanjang persidangan, nilai paket proyek kepada Khairil Adha tidak disebutkan. Lantas, berapakah nilai paket proyek untuk Khairil Adha, yang disebut diberikan oleh Hendry Rosyadi kepadanya, bila besaran proyek yang diakui diterima Hendry Rosyadi hanya Rp 4,9 miliar saja?

Diketahui, Hendry Rosyadi dan penerimaan-penerimaan paket proyek yang disebut Anjar Asmara sebenarnya sudah pernah menjadi ulasan di ruang persidangan ketika Hendry bersaksi untuk terdakwa Zainudin Hasan.

Di sisi lain, materi kesaksian Hendry pada perkara Hermansyah Hamidi dan Syahroni sebagai terdakwa ini tidak jauh berbeda seperti yang dibaca KIRKA.CO dalam surat vonis Zainudin Hasan sebanyak 656 lembar.

KIRKA.CO pada Selasa, 13 April 2021, mendapati bahwa peneraan nama Iril di surat vonis Zainudin Hasan terdapat 6 kali.

Salah satunya, nama Iril tercatat di dalam Barang Bukti nomor 3 yang dirampas untuk negara. Nama Iril persisnya termuat pada 1 bundel dokumen dalam map kuning yang berjudul Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Pada Barang Bukti Nomor 3 Poin C disebutkan, ”1 lembar catatan dengan tulisan antara lain Saiful = 4, iril =
2, dan seterusnya”.

Kemudian, nama Iril juga tercatat di dalam kesaksian Anjar Asmara pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Nomor 20. Dalam surat vonis Zainudin Hasan tadi, Iril disebut Anjar Asmara telah mendapat paket proyek Rp 2 miliar.

 

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan