Ritual Macet Idulfitri di Lampung: Mengapa Terus Berulang Tiap Tahun?

Ritual Macet Idulfitri di Lampung: Mengapa Terus Berulang Tiap Tahun?
Ilustrasi: Kolase Analisis Kemacetan Tahunan Idulfitri di Lampung. Menyoroti bottle neck Tugu Coklat dan pasar tumpah Pasar Natar. Foto: Arsip Wiki/Istimewa/Kirka/I

Kirka – Kepadatan lalu lintas kembali menjadi menu wajib bagi masyarakat yang menghabiskan masa libur Idulfitri 1447 H di Provinsi Lampung.

Tingginya volume kendaraan di jalur pelintasan antar kabupaten dan rute pariwisata membuat kapasitas jalan raya tak lagi mampu menampung mobilitas warga.

Dua lokasi yang paling menyita perhatian akibat kemacetan parah adalah kawasan Tugu Coklat di Kabupaten Pesawaran dan ruas lintas tengah Sumatera di Pasar Natar, Lampung Selatan.

Pada hari kedua Lebaran, arus lalu lintas di kedua titik tersebut nyaris lumpuh.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai fenomena tersebut bukan sekadar ekses dari membludaknya jumlah pemudik.

Menurutnya, ada persoalan tata ruang dan kelemahan infrastruktur yang terus dibiarkan tanpa penanganan permanen oleh pemerintah daerah.

“Kawasan Tugu Coklat itu ibarat leher botol. Arus kendaraan dari Bandarlampung bertabrakan langsung dengan lalu lintas dari Pringsewu, belum lagi ditambah ribuan mobil wisatawan yang mengarah ke pesisir.

“Wajar kalau akhirnya terkunci rapat,” ujar Mahendra, Jumat, 27 Maret 2026.

Problem berbeda namun tak kalah pelik terjadi di kawasan Natar.

Mahendra menyebut hambatan samping menjadi biang kerok utama anjloknya kecepatan kendaraan.

Keberadaan pasar tumpah, parkir liar yang merampas hak guna bahu jalan, hingga tingginya aktivitas keluar-masuk kendaraan dari gang pemukiman membuat arus tersendat parah.

Selama ini, pihak kepolisian telah berupaya keras mengurai antrean melalui rekayasa lalu lintas seperti contraflow hingga pengalihan jalur.

Kendati demikian, langkah taktis aparat di lapangan dinilai belum menyentuh akar permasalahan.

Merujuk pada Teori Permintaan Transportasi Terinduksi, Mahendra menegaskan bahwa merekayasa kelancaran jalan hanya menjadi solusi semu.

Ketika sebuah ruas jalan dilancarkan, hal itu justru akan memancing lebih banyak warga untuk mengeluarkan kendaraan pribadinya, yang pada gilirannya menciptakan titik macet baru di lokasi lain.

Guna memutus siklus tahunan yang melelahkan ini, Mahendra mendesak pemerintah segera mengeksekusi langkah struktural.

Salah satu intervensi fisik yang paling mendesak adalah pemisahan arus di pertigaan Tugu Coklat melalui pembangunan jalan layang (flyover) atau terowongan (underpass).

Konstruksi ini diyakini sangat efektif memecah silang lalu lintas antara kendaraan wisata dan rute reguler antar wilayah.

Di samping itu, integrasi jalur arteri dengan akses tol juga butuh evaluasi menyeluruh.

Optimalisasi gerbang tol yang berdekatan dengan pusat keramaian lokal dinilai mampu mengurangi beban jalan nasional secara signifikan.

Sementara untuk kasus Natar, pemerintah daerah dituntut lebih berani menertibkan area komersial dan membangun kantong parkir khusus.

Dalam kacamata yang lebih luas, paradigma penanganan tata kota di Lampung sudah saatnya bergeser pada penyediaan transportasi publik massal berbasis Transit Oriented Development (TOD).

Mahendra mengutip pandangan pakar urbanisme Lewis Mumford, yang menyebut kebiasaan terus-menerus melebarkan jalan demi mengatasi macet sama halnya dengan melonggarkan ikat pinggang untuk mengobati obesitas.

“Obat sebenarnya adalah angkutan umum yang terintegrasi. Pemerintah bisa mulai merancang armada bus wisata khusus dari Bandarlampung menuju pesisir Pesawaran, atau menghidupkan kembali operasional kereta api lokal.

“Selama kita hanya bergantung penuh pada kendaraan pribadi, macet Lebaran akan selamanya jadi tradisi di Lampung,” pungkasnya.