Menu
Precision, Actual & Factual

Musa Zainudin Ungkap Peran M Tio Aliansyah dan Teguh Wibowo di Kasusnya dan Perkara Mustafa

  • Bagikan
Musa Zainudin dipeluk M Tio Aliansyah saat mengucurkan air mata di PN Tipikor Jakarta Pusat. Kala itu Musa sedang menghadapi proses hukum atas kasusnya. Foto: Istimewa

KIRKA.CO – Jaksa sebagai penuntut umum menghadirkan Musa Zainudin, mantan Ketua DPW PKB Lampung dan juga mantan Anggota DPR RI di persidangan suap dan gratifikasi terhadap mantan Bupati Lampung Tengah Mustafa.

Ia hadir sebagai Saksi di ruang persidangan yang digelar di PN Tipikor Tanjungkarang, Kamis (04/03). Sedikitnya ada 6 orang Saksi yang hadir untuk memberikan kesaksian.

Ketika dihadirkan, Jaksa sebagai penuntut umum mencoba mengkonfirmasi penggunaan uang senilai Rp18 miliar dari Mustafa, yang dimaksudkan sejak awal sebagai biaya untuk mendapatkan rekomendasi atau dukungan DPP PKB melalui DPW PKB Lampung.

Dari keterangan sejumlah Saksi, nominal uang Rp18 miliar itu sedianya muncul berdasarkan kesepakatan antara Mustafa dan Chusnunia Chalim, yang saat itu berstatus sebagai Wasekjen DPP PKB dan juga Bupati Lampung Timur.

Kronologi waktu atas peristiwa yang berkait dengan penyerahan uang Rp18 miliar itu diketahui berlangsung pada akhir 2017 dan awal 2018, atau sekurang-kurangnya menjelang proses kontestasi Pilgub Lampung 2018.

Perlu diketahui, uang dari Mustafa tersebut berasal sebagian dari hasil ijon proyek pada Dinas Bina Marga Lampung Tengah yang dikumpulkan berdasarkan pemberian para kontraktor dan dipungut oleh mantan Kadis Bina Marga Taufik Rahman –napi korupsi yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Konteks pertanyaan Jaksa kepada Musa Zainudin perihal hal itu dilatarbelakangi adanya kesaksian mantan kader DPW PKB Lampung Midi Iswanto. Midi sepanjang persidangan berjalan diketahui berperan sebagai orang yang menampung uang dari Mustafa bersama-sama dengan Khaidir Bujung, atas perintah Chusnunia Chalim.

Keduanya bahkan diakui oleh Chusnunia adalah utusannya untuk bertemu dengan Mustafa. Pengakuan Chusnunia itu dituangkan di dalam BAP saat Mustafa bertanya perihal status Midi dan Khaidir, yang saat itu uang Rp18 miliar sudah diberikan Mustafa.

Nyatanya uang Rp18 miliar itu disebut oleh Midi Iswanto telah diberikan kepada sejumlah Pihak, termasuk untuk keperluan Musa Zainudin.

Keperluan Musa Zainudin yang dimaksud adalah ketika Musa menghadapi proses hukum saat Musa ditersangkakan KPK atas perkara suap atas proyek Kementerian PU-PR.

Ada 9 buah poin berdasarkan BAP Musa perihal penggunaan uang yang diakuinya telah diterimanya dan digunakan lewat tangan Midi Iswanto berikut dengan Khaidir Bujung.

Salah satu biaya Musa yang diselesaikan Midi ialah menyetorkan uang Rp 1 miliar kepada seorang bernama Mutakin. Mutakin dalam kesaksian Musa Zainudin adalah orang yang bertugas sebagai staffnya.

Sepanjang penjelasan Musa, suatu waktu di Rumah Sakit Abdi Waluyo ia dijenguk oleh Ketua KNPI Lampung bernama Teguh. Teguh menyampaikan bahwa Mutakin butuh uang senilai Rp 1 miliar. Teguh yang dimaksud di sini adalah Teguh Wibowo.

Singkat cerita, Musa memerintahkan Midi Iswanto pada tahun 2017 agar mengabulkan permintaan Mutakin. Dalam perjalanannya uang itu diberikan Midi lewat Teguh dan M Tio Aliansyah.

Dari sini tergambar bahwa M Tio Aliansyah pun ditengarai masuk di dalam dua kasus yang berbeda. M Tio disebut membantu Musa Zainudin untuk membantu pemberian uang kepada Mutakin.

Jaksa sebagai penuntut umum mengonfirmasi perihal pemberian uang Rp 1 miliar itu. Musa Zainudin lalu menjawab, ”Itu betul berdasarkan laporan Midi”.

”Sudah dipastikan?” tanya Jaksa lagi. Lalu dijawab, ”Saya nggak tahu sudah sampai atau belum”. Jaksa kembali bertanya, ”Itu untuk apa?”.

Musa Zainudin mengatakan: ”Menurut informasi. Dia minta tolong karena sedang susah semenjak nikah. Enggak punya uang lagi. Dia janji ke saya, akan meluruskan keterangannya terkait kasus saya di PN Jakarta Pusat”.

Jaksa kembali bertanya apakah Mutakin adalah orang dekat Musa atau tidak. ”Betul. Itu orang saya,” timpal Musa Zainudin.

Dikonfirmasi terpisah, M Tio Aliansyah yang adalah Komisioner KPU Lampung saat peristiwa itu berlangsung pada Sabtu, 6 Maret 2021 mengatakan bahwa dirinya sedang ditimpa musibah. Ia tak menjelaskan musibah apa yang dimaksud.

Ditanya perihal kesaksian Musa Zainudin perihal penyebutan dan adanya peranan M Tio, ia malah memberikan saran agar hal tersebut ditanyakan lebih jauh ke Musa Zainudin.

Berdasarkan hasil penelusuran dari sumber terbuka, sosok Mutakin memang lah anak buah Musa Zainudin. Diketahui ia sempat memilih lari karena takut ikut terseret dalam kasus Musa Zainudin.

Mutakin merupakan Staf Administrasi Musa di Komisi V DPR. Mutakin mengaku sudah melarikan diri sejak awal kasus suap Kementerian PU-PR masuk tahap penyidikan. Kala itu Musa memberinya Rp 10 juta sebagai bekal.

“Kata Pak Musa, katanya kalau kamu nggak lari nanti katanya kamu yang kena,” tutur Mutakin dalam persidangan di PN Tipikor Jakarta Pusat, Rabu, 31 Mei 2017.

Musa Zainuddin ditetapkan sebagai tersangka KPK atas dugaan suap Rp 7 miliar terkait proyek jalan di Maluku dan Maluku Utara.

Dalam dakwaan Abdul Khoir, nama Musa juga disebut ikut menerima duit suap sebesar 8 persen atau senilai Rp 8 miliar dari total nilai proyek pembangunan atau rekonstruksi jalan di Maluku dan Maluku Utara.

Selain Musa, ada 4 anggota Komisi V lain yang telah dijerat KPK dalam kasus ini. Mereka yaitu Damayanti Wisnu Putranti, Budi Supriyanto, Andi Taufan Tiro, dan Yudi Widiana Adia.

Ricardo Hutabarat

  • Bagikan