Mengapa Natar Jadi Primadona Pembangunan Bupati Egi?

Mengapa Natar Jadi Primadona Pembangunan Bupati Egi?
Visualisasi strategi "Growth Pole" Bupati Radityo Egi Pratama: Menjadikan Natar sebagai primadona pembangunan untuk target PDRB Lampung Selatan meledak pada 2030. Foto: Arsip Wiki/Kirka/DBS/I

Kirka – Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan di bawah kepemimpinan Bupati Radityo Egi Pratama (Egi) tengah menerapkan strategi pembangunan berbasis konsep Growth Pole atau pusat pertumbuhan.

Kecamatan Natar diposisikan sebagai primadona awal pembangunan, dengan tujuan menciptakan efek domino ekonomi yang signifikan ke seluruh wilayah Lampung Selatan dalam lima tahun ke depan.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai langkah Bupati Egi menjadikan Natar sebagai prioritas utama pada 2025 adalah keputusan strategis yang didasarkan pada logika ekonomi dan kebutuhan riil lapangan.

“Bupati Egi tampaknya punya hitungan tersendiri. Anggaran Rp45 miliar untuk Natar di 2025, termasuk jalan 17,5 km dan pasar induk, bukan soal pilih kasih.

“itu adalah strategi membangun fondasi kuat di satu titik potensial agar dampaknya menyebar ke wilayah lain,” ungkap Mahendra saat menganalisis arah pembangunan Lampung Selatan, Selasa, 17 Februari 2026.

Menurut Mahendra, pemilihan Natar sebagai growth pole sangat masuk akal secara data.

Sebagai kecamatan terluas dengan populasi sekitar 100.000 jiwa, Natar memiliki kebutuhan infrastruktur mendesak sekaligus potensi ekonomi yang besar.

“Natar berbatasan langsung dengan Bandarlampung dan dilalui jalur lintas Sumatera. Posisinya sangat strategis untuk jadi hub perdagangan.

“Rencana pasar induk di sana bisa mengubah Natar jadi pusat UMKM hortikultura yang dampaknya akan terasa di 24 kecamatan lainnya,” jelas Mahendra.

Ia menambahkan, pendekatan ini mengadopsi teori Growth Pole dari François Perroux, di mana konsentrasi investasi di satu titik strategis akan menciptakan pertumbuhan yang menular ke sekitarnya, mirip seperti efek Jakarta terhadap kawasan Bodetabek.

“Ini juga bentuk keadilan pembangunan. Wilayah besar dengan infrastruktur minim seperti Natar memang harus mendapat porsi lebih besar untuk mengejar ketertinggalan.

“Apalagi prioritas ini lahir dari aspirasi Musrenbang, jadi lebih sustainable,” tambahnya.

Peta Setelah Natar

Mahendra menegaskan bahwa strategi Bupati Egi tidak berhenti di Natar.

Berdasarkan data, wilayah-wilayah lain sudah masuk dalam radar pengembangan selanjutnya dengan spesialisasi masing-masing.

“Setelah fase Natar, arahnya jelas. Jati Agung dan sekitar ITERA akan didorong menjadi ekosistem pendidikan dan teknologi, semacam klaster riset,” paparnya.

Selanjutnya, Tanjung Bintang diproyeksikan sebagai kawasan industri masa depan dengan dukungan pembangunan jalan masif total 270 km di 2025 untuk kelancaran logistik ke Pelabuhan Bakauheni.

Sementara itu, Sidomulyo dan Palas difokuskan sebagai lumbung pangan dengan prioritas pembangunan irigasi dan jalan usaha tani.

Proyeksi Ekonomi 2030

Dampak dari strategi pembangunan bertahap itu diproyeksikan akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Lampung Selatan secara signifikan.

Mahendra memperkirakan, jika eksekusi berjalan konsisten, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah ini bisa melonjak 30-40 persen dalam lima tahun.

“Saat ini PDRB Lamsel tumbuh 4,62 persen dengan nilai sekitar Rp50 triliun. Dengan pola growth pole ini, ada peluang realistis PDRB tembus Rp70 triliun di tahun 2030,” proyeksiannya.

Hal tersebut juga berpotensi menaikkan PDRB per kapita menjadi sekitar Rp55 juta dan menurunkan tingkat kemiskinan hingga 15 persen.

Namun, Mahendra memberikan catatan penutup mengenai tantangan yang harus dihadapi.

“Strateginya brilian karena inklusif dan partisipatif. Tapi, hantu penyelewengan anggaran dan isu perubahan iklim bisa menggagalkan rencana.

“Kuncinya ada di konsistensi eksekusi dan transparansi dari Bupati Egi dan jajarannya,” pungkas Mahendra.