Kirka – Geliat Provinsi Lampung menjadi tuan rumah perhelatan olahraga tingkat nasional tampaknya masih terganjal kesiapan infrastruktur.
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung pun melontarkan sentilan tajam terkait kondisi sarana di kawasan Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim yang dinilai belum layak pakai.
Peringatan tersebut diungkapkan langsung oleh Wakil Ketua Umum II KONI Lampung, Riagus Ria, selepas menghadiri rapat optimalisasi aset daerah.
Di matanya, wajah fasilitas tempat para pahlawan olahraga daerah berlatih sekarang sangat memprihatinkan dan berisiko menghambat program pembinaan prestasi.
Terdapat sejumlah bangunan yang mendesak untuk segera dibenahi.
Riagus menyebut, GOR Mini dan gedung Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) harus secepatnya disentuh perbaikan menyeluruh agar bisa dioperasikan dengan nyaman.
Begitu pula dengan beberapa venue di bagian belakang stadion utama yang kondisinya butuh sentuhan renovasi segera.
“Kami mendorong kualitas GOR Mini ditingkatkan, gedung PPLP diperbaiki supaya layak dihuni, dan venue di belakang stadion juga harus lekas direnovasi,” tegas Riagus, dikutip pada Kamis, 9 April 2026.
Desakan dari otoritas olahraga daerah tersebut tentu bukan tanpa dasar.
Mengingat, Lampung tengah bersiap menyambut ribuan tamu dari berbagai penjuru Nusantara.
Sebut saja agenda terdekat seperti Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas), disusul Pekan Olahraga Nasional (Pornas) Korpri ke-18 pada 2027 mendatang, hingga menatap peluang besar menjadi tuan rumah PON.
Apabila tempat latihan dibiarkan seadanya, target medali yang dibebankan kepada para atlet dikhawatirkan hanya akan menjadi angan-angan kosong.
Proses pemusatan latihan butuh ruang yang representatif, bukan sekadar lapangan ala kadarnya yang justru rentan memicu cedera.
Di balik desakan perbaikan sarana, pihak KONI sebetulnya menaruh asa besar pada rencana transformasi tata ruang PKOR Way Halim.
Kawasan tersebut dirancang menjadi pusat kegiatan terpadu di masa depan.
Tidak melulu soal keringat dan ajang pertandingan, melainkan dihidupkan sebagai magnet baru bagi sektor pariwisata sekaligus pendorong ekonomi UMKM lokal.
Gagasan besar itu turut melibatkan banyak pemangku kepentingan.
Dalam forum pembahasan aset, hadir pula jajaran pemerintah, pelaku usaha, hingga petinggi lembaga perbankan seperti Bank Indonesia dan Bank Lampung.
Keterlibatan lintas sektor diharapkan mampu melahirkan skema pembiayaan melalui pihak ketiga atau investor.
Langkah tersebut sengaja didorong supaya proyek revitalisasi kawasan olahraga tidak sampai menyedot habis Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Meski konsep pembenahan akan digarap secara bertahap, Riagus menekankan satu hal yang tidak bisa ditawar dalam waktu dekat.
“Bagi kami yang paling utama adalah ketersediaan tempat latihan.
“Proses renovasi berjalan bertahap tidak masalah, asalkan atlet punya ruang memadai untuk mematangkan kemampuan mereka,” pungkasnya.






