Garuda Indonesia Merger dengan Citilink dan Pelita Air: Strategi Kebangkitan Maskapai Nasional di 2026

Garuda Indonesia Merger dengan Citilink dan Pelita Air: Strategi Kebangkitan Maskapai Nasional di 2026
Ilustrasi sinergi armada Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air di bawah naungan BPI Danantara. Foto: Arsip Wiki/Kirka/I

Kirka – Lanskap industri penerbangan nasional mengalami pergeseran signifikan pada kuartal pertama 2026.

Keputusan pemerintah mengintegrasikan Citilink dan Pelita Air ke dalam ekosistem PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk di bawah komando Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dinilai sebagai langkah strategis paling agresif dalam satu dekade terakhir.

Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menilai aksi korporasi ini bukan sekadar konsolidasi aset biasa, melainkan upaya bedah total untuk memutus rantai masalah finansial yang selama ini membelit maskapai nasional (national flag carrier).

“Masuknya Pelita dan Citilink ke dalam Garuda Group adalah skema pemisahan beban masa lalu dengan prospek bisnis masa depan.

“Ini langkah taktis untuk menciptakan entitas penerbangan yang ramping namun bertenaga besar,” tegas Mahendra dalam keterangannya, Sabtu, 14 Februari 2026.

Danantara

Mahendra menyoroti peran vital BPI Danantara dalam eksekusi merger ini.

Menurutnya, pengawasan langsung di bawah lembaga pengelola investasi tersebut memberikan jaminan bahwa proses integrasi tidak akan mengganggu operasional rutin.

Ia mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan Garuda sebagai aset strategis prioritas, bukan sekadar BUMN penerima suntikan APBN.

“Peran Rosan Roeslani dan pengawasan teknis dari Donny Oskaria (COO Danantara) sangat krusial.

“Target penyelesaian di Q1 2026 menunjukkan pemerintah tidak ingin membuang waktu untuk mengembalikan daya saing Garuda di pasar regional,” papar Mahendra.

Rute dan LCC

Dalam analisisnya, Mahendra menyebut dampak langsung dari merger ini adalah penghapusan rute ganda (overlapping) yang selama ini memboroskan bahan bakar dan biaya operasional.

Sinergi tiga maskapai memungkinkan pembagian segmen yang lebih tegas: Garuda untuk full service, sementara Citilink dan Pelita menyasar pasar menengah dan low cost.

Namun, Mahendra mengingatkan bahwa pekerjaan rumah belum selesai.

Konsolidasi internal ini harus segera diikuti dengan strategi pasar yang jitu untuk menghadapi gempuran maskapai swasta dan pemain regional.

“Tantangan riilnya ada pada perang tarif melawan pemain LCC (Low Cost Carrier) raksasa seperti Lion Group dan AirAsia.

“Efisiensi dari merger ini harus bisa dikonversi menjadi harga tiket yang kompetitif bagi masyarakat,” urainya.

Optimisme Kebangkitan

Kendati demikian, Mahendra meyakini bahwa dengan struktur permodalan dan manajemen baru di bawah Danantara, Garuda Indonesia memiliki landasan pacu yang cukup panjang untuk kembali lepas landas (take off).

“Ini momentum titik balik. Kita optimis, dengan manajemen satu pintu yang lebih solid, langit Nusantara akan kembali didominasi oleh maskapai nasional yang sehat secara finansial dan prima dalam pelayanan,” pungkas Mahendra.